Kiat Islam Menghindari Pelit, Dendam, dan Sombong
Ego pribadi yang tinggi serta sempitnya hati dan pikiran menjadi penyebab utama munculnya sifat pendendam.
Seorang pendendam memiliki ambisi kuat untuk membalas dengan keburukan serta sangat sulit memaafkan kesalahan orang lain. Emosi negatif yang bersarang dalam akal dan jiwa ini pada akhirnya akan merusak kebaikan diri sendiri.
Sombong, ujub, dan takabur memiliki makna serupa, yaitu membanggakan diri pribadi di hadapan orang lain. Seseorang kerap terperdaya oleh nikmat karena merasa semua itu diraih atas usaha dan kepintarannya sendiri.
Sifat sombong ini sering ditunjukkan melalui aksi memamerkan kekayaan (flexing) demi mendapatkan pengakuan atas eksistensi dirinya.
Tidak hanya itu, sifat sombong juga cenderung merendahkan, menghina, serta menganggap orang lain penuh dengan kekurangan. Dampak buruknya, ia akan mengalami stres kronis karena haus akan validasi manusia dan menolak kebenaran.
Obat Pelit, Dendam, dan Sombong
Tidak ada obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit hati kecuali dengan membenahi aqliyah dan nafsiyah sesuai tuntunan Islam. Upaya pembenahan ini harus dilakukan semata-mata karena Allah demi meraih rida dan pahala di sisi-Nya.
Langkah mulia ini bukan sekadar ditujukan untuk mencari kemaslahatan berupa kesehatan fisik semata. Melalui aqliyah dan nafsiyah Islami, Allah pasti membimbing hamba-Nya untuk mendapatkan ketenangan akal dan jiwa.
Kita patut merenungkan sebuah hadis mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai obat dari penyakit hati ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah sedekah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan pada seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Seorang Muslim yang benar imannya pasti memahami bahwa rezeki berupa harta merupakan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ikhtiar dan doa dalam menjemput rezeki dilakukan semata-mata untuk memenuhi perintah Allah.
Pemahaman inilah yang menjadikan dirinya senantiasa berusaha memanfaatkan harta sesuai dengan koridor syariat.
Ia akan merasa sangat beruntung ketika diberikan kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersedekah. Hal yang senantiasa diharapkan adalah keberkahan harta demi kehidupan akhiratnya.






