NUIM HIDAYAT

Kita Sunni, Bolehkah Mendukung Iran yang Dizalimi AS dan Israel?

Upaya taqrib telah dilaksanakan puluhan kali di berbagai negara. Forum Persatuan Islam di Iran menggelar 40 kali konferensi, Liga Muslim Dunia di Makkah dua kali, Dialog Intra Islam di Bahrain satu kali, serta Konferensi Rekonsiliasi Irak di Indonesia, Maroko, dan Suriah.

Inisiatif para ulama dunia dalam taqrib berlandaskan pandangan bahwa Sunni dan Syiah sama-sama Muslim. Ulama terkemuka dunia, Syekh Yusuf al-Qaradhawi, sedikitnya pernah menghadiri konferensi taqrib di Maroko, Bahrain (2003), Suriah (2005), dan Qatar (2007), serta mengunjungi Iran pada 1998.

Namun, Syekh al-Qaradhawi kemudian merasa kecewa terhadap efektivitas forum-forum taqrib tersebut.

Pertama, konferensi dinilai sekadar menghasilkan formalitas diplomatik. Dalam penjelasan tertulisnya mengenai Konferensi Taqrib Doha (20–22 Januari 2007), Al-Qaradhawi mengkritik forum yang dipenuhi retorika saling memuji tanpa berani membedah persoalan sensitif secara terbuka.

Kedua, beliau menuntut penghentian penistaan terhadap para sahabat Nabi saw. Al-Qaradhawi menjadikan penghormatan kepada sahabat sebagai syarat utama taqrib, sebab persatuan mustahil terwujud jika satu pihak melaknat figur yang dihormati pihak lain.

Ketiga, beliau menolak ekspansi dakwah sektarian di wilayah mayoritas mazhab lain. Penyebaran mazhab secara agresif di basis tradisional mazhab berbeda dinilai sebagai penghalang utama persatuan.

Keempat, beliau menilai lembaga taqrib di Iran kurang independen. Lembaga pendekatan antarmazhab di Teheran dibentuk, dibiayai, dan diarahkan oleh pemerintah Iran, sehingga tidak lahir dari kesepakatan bersama antarmazhab secara setara.

Kelima, eskalasi konflik politik regional memperdalam kekecewaan tersebut. Keterlibatan Iran dan sekutunya dalam konflik Suriah pasca-2013 memperburuk hubungan dengan dunia Sunni.

Meski demikian, Al-Qaradhawi tidak menolak prinsip persatuan Islam secara mutlak. Beliau tetap meyakini pentingnya kesatuan umat, tetapi menolak model taqrib formalitas yang tidak menyelesaikan akar masalah secara timbal balik.

Terkait status keagamaan Syiah, Al-Qaradhawi secara eksplisit menyatakan pada September 2008:

أَنَا لَا أُكَفِّرُهُمْ، كَمَا فَعَلَ بَعْضُ الْغُلَاةِ، وَأَرَى أَنَّهُمْ مُسْلِمُونَ، وَلَكِنَّهُمْ مُبْتَدِعُونَ

“Saya tidak mengafirkan mereka, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang yang berlebihan. Saya memandang mereka sebagai Muslim, tetapi mereka adalah pelaku bidah.”

Pada 2007, dalam wawancara di situs resminya, Syekh Yusuf al-Qaradhawi menegaskan:

عَلَيْنَا أَنْ نُدَافِعَ عَنْ إِيرَانَ بِاعْتِبَارِهَا وَطَنًا مُسْلِمًا

“Kita harus membela Iran karena ia merupakan negeri Muslim.” Beliau menambahkan bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, umat Islam wajib menentang serangan tersebut.

Pandangan ulama besar ini selaras dengan prinsip Islam dalam menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada Februari 2026 merupakan bentuk kezaliman yang nyata.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button