NUIM HIDAYAT

Kita Sunni, Bolehkah Mendukung Iran yang Dizalimi AS dan Israel?

Di sisi lain, rekam jejak konflik Suriah (2011–2024) memang menjadi titik balik kemunduran citra Iran di dunia Sunni akibat dukungannya terhadap rezim otoriter Bashar al-Assad. Konflik tersebut berakhir saat Damaskus jatuh ke tangan pasukan Ahmad Sharaa pada 8 Desember 2024.

Konflik Sunni-Syiah di kawasan Timur Tengah sering kali berakar pada perebutan kekuasaan politik, seperti yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman.

Untuk mencegah pertumpahan darah, kedua belah pihak harus menahan diri dari sikap saling mengafirkan serta memprioritaskan titik temu (kalimatin sawa’).

Pertikaian antarumat Islam di Timur Tengah memberikan keuntungan strategis bagi Israel dan Amerika Serikat, sekaligus memperlambat kemerdekaan Palestina.

Strategi politik Amerika Serikat dan Israel di kawasan terangkum dalam dokumen think tank RAND Corporation (2008): “Divide and rule is also a possible strategy… the United States could capitalize on the Shia–Sunni conflict by siding with conservative Sunni regimes against Shiite movements.”

Strategi pecah belah tersebut terlihat dari blokade ekonomi terhadap Iran sejak 1979 yang diikuti sejumlah negara kawasan.

Secara objektif, musuh utama dunia Islam adalah penjajahan dan kezaliman yang dilanggengkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Menjadi tindakan yang tidak bijaksana jika umat Islam justru menyalahkan Iran saat negara tersebut dibombardir oleh Israel dan AS hingga memakan korban puluhan jiwa sipil.

Apabila negara-negara Muslim seperti Iran, Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Qatar, dan Turki bersatu, pembebasan Palestina dari pendudukan Israel akan memiliki landasan yang kuat.

Tragedi kemanusiaan di Palestina seharusnya menjadi momentum pemersatu dunia Islam. Arab Saudi dan Iran perlu duduk bersama menyelesaikan konflik Yaman secara adil demi menghentikan penderitaan rakyat.

Al-Qur’an menegaskan:

فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Sejarah mencatat bahwa pada 7 Hijriah (628 Masehi), kaum Muslimin meraih kemenangan gemilang dalam Perang Khaibar melawan kekuatan musuh.

Peristiwa historis tersebut hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi konsolidasi persatuan dunia Islam dalam membebaskan Palestina. Allah Swt. berfirman:

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Dan pasti Allah akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Wallahu ‘azizun hakim.

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button