MUHASABAH

Krisis Kaderisasi Ulama dan Diamnya Ulama di Era Digital

Kalimat: ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Selanjutnya Ibnu Katsir memaparkan:

التَّحَاكُمُ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ…

Maksudnya: Berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta kembali kepada keduanya di saat terjadi perselisihan adalah sebuah kebaikan. Dan kalimat “paling baik akibatnya” berarti paling indah kesudahannya, paling agung pahalanya, dan selamat tempat kembalinya. (Ibnu Katsir, Juz 2, hlm. 346).

Jika bangsa Indonesia, khususnya umat Islam dan para ulama, kyai/gus, serta aktivis muslim mau mengembalikan sistem kaderisasi ulama ke jalan Al-Quran dan Sunnah, maka akibatnya akan baik (Ahsanut Ta’wila).

Sebaliknya, jika diabaikan, maka umat Islam tinggal menunggu kehancurannya, dan di akhir zaman Islam pun hanya tinggal nama serta simbol-simbol keislaman hanya akan menjadi kenangan.

Sesuai peringatan Imam Al-Ghazali ketika mengutip perkataan Imam Hasan Basri:

Laulal ilmul ulamaau lahakal jaahiluna. “Seandainya tidak ada ilmu para ulama, niscaya hancurlah orang-orang bodoh”. (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz 1, hlm. 7).

Wa laulal ulamaau lahalakan naasu kal-bahaaimi. “Tanpa bimbingan ulama, moral manusia akan merosot jatuh ke derajat binatang.”

Otorefleksi Ulama Modern dan Bahaya Sikap Diam

Ulama memikul mandat kenabian untuk menjaga akidah umat Islam dari kerusakan moral, terutama di era digital yang penuh fitnah ini.

سَتَكُوْنُ فِتَنٌ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا إِلَّا مَنْ أَحْيَاهُ اللهُ بِالْعِلْمِ

Kelak akan terjadi fitnah yang menakutkan. Di pagi hari seseorang masih beriman, namun di sore harinya ia telah kafir, kecuali orang yang hidupnya dijaga oleh Allah dengan mengamalkan ilmunya. (HR. Al-Dailami, Juz 2, hlm. 334, No. 3478).

Namun, kenyataan hari ini sering kali kita diperlihatkan dengan potret ulama-ulama yang tidak lantang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Kurangnya ketegasan para dai dan ulama saat ini telah dirasakan langsung oleh penulis ketika berdialog dalam suatu ruangan penilaian dengan pengurus MUI Pusat. Menurutnya, penyampaian kebenaran (al-haq) kepada pihak penguasa saat ini cenderung bias dan penuh kompromi.

Ketika hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan tatanan sosial dibolak-balik, maka ulama tidak boleh bungkam dan menjadi setan bisu (saitanun akhrash) demi mengincar jabatan atau sekadar aman secara birokrasi.

Diamnya pemegang otoritas ilmu terhadap kemaksiatan kaum struktural dapat mengundang azab kolektif dari Allah SWT sebelum ajal menjemput.

Disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يَعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعْصِيَةِ…

Tidaklah seseorang berada di suatu kaum yang melakukan kemaksiatan di tengah-tengah mereka, sedangkan kaum tersebut mampu mengubahnya, namun mereka tidak mau mengubahnya, melainkan Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka sebelum mereka mati. (HR. Abu Dawud No. 4339 dan Ibnu Majah No. 4009).

Kesucian Ilmu dalam Atsar

Umat Islam yang mendambakan kejayaan di dunia dan keselamatan di akhirat wajib menjaga diri dan lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren, dari segala hal yang haram dan syubhat.

Abu Abdullah As-Saji (Said bin Yazid) berkata: “Ada lima perkara yang menyempurnakan ilmu: mengenal Allah SWT, mengenal kebenaran, ikhlas beramal, mengamalkan sunah-sunah Nabi, dan memakan harta yang halal. Jika hilang salah satunya saja, maka amal ibadah tidak akan diangkat ke langit.”

Imam Sahl berkata: “Tidak sah memakan makanan yang halal tanpa didasari ilmu. Dan harta belum bisa dikatakan halal dan bersih, kecuali meninggalkan enam hal, yaitu riba, perkara haram, suht (harta kotor/suap), ghulul (khianat/penggelapan), perkara makruh, dan syubhat.” (Tafsir Al-Qurtubi, Juz 2, hlm. 208).

Kesimpulan

Para ulama melalui pendidikan pesantren dan lembaga pencetak ulama lainnya wajib mengkader ulama dan wajib dijauhkan dari dana syubhat atau cara-cara batil. Sumber yang halal akan melahirkan generasi penerus yang berkah dunia akhirat.

Kurangnya ketegasan ulama saat menghadapi kezaliman saat ini harus menjadi bahan koreksi bersama. Karena itu kita harus serius mencetak kader ulama agar ilmu-ilmu keislaman tidak hilang dari muka bumi. Jika umat Islam lengah, maka bisa jadi umat Islam dipimpin oleh bangsa lain dan atau dipimpin oleh orang-orang bodoh.

Ulama sejati tidak boleh diam atau berkompromi dengan kemaksiatan atau dari pejabat pemerintah yang jahat dan atau dari ulama penjilat demi jabatan. Sikap diam hanya akan menjerumuskan masyarakat dan umat Islam ke dalam kehancuran moral dan dapat mengundang azab Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kekuatan lahir batin, melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, kepada para pemimpin kita, para ulama kita, dan seluruh umat Islam, serta semoga Allah SWT menuntun kita semua ke jalan lurus yang diridhai-Nya. Amin. Wallahu’alam

Badruddin H Subky
Pimpinan Ponpes Al Badar, Kota Bogor

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button