RESONANSI

Krisis Sudan Jauh Lebih Buruk daripada yang Diakui

Bahkan di Khartoum, tempat pertempuran sudah tidak lagi berlangsung, situasi kemanusiaannya sangat memprihatinkan.

Islamic Relief baru-baru ini melakukan penelitian yang menemukan bahwa 42 persen dari 844 dapur yang disurvei di seluruh negeri telah tutup dalam enam bulan terakhir akibat kekurangan dana dan pasokan.

Kini perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran juga menghambat rantai pasok dan memperburuk krisis kelaparan di Sudan, dengan harga makanan dan bahan bakar yang melonjak dua kali lipat sehingga makin banyak keluarga jatuh ke dalam kelaparan.

Di wilayah barat Darfur dan Kordofan, masyarakat terus melarikan diri dari kekejaman yang mengerikan: serangan drone ke rumah sakit dan sekolah, kota-kota yang dikepung, desa-desa yang dibakar, serta konvoi bantuan yang dibom.

Saya sangat kagum kepada staf kami di sana yang terus bekerja dalam kondisi ekstrem dan membantu para pengungsi sebisa mungkin.

Namun, kebutuhan yang belum terpenuhi masih sangat besar.

Bahkan di Khartoum dan wilayah timur negara itu, tempat keamanan mulai membaik dan keluarga pengungsi mulai kembali ke komunitas mereka, situasinya tetap buruk.

Sedikitnya 1,3 juta orang telah kembali ke ibu kota hanya untuk menemukan bencana: kekurangan pangan parah, lapangan kerja yang sangat sedikit, dan hampir tidak ada layanan publik.

Kemiskinan sangat parah dan meluas karena perang telah menghancurkan ekonomi.

Sekitar 200 sekolah di Khartoum saja tidak lagi beroperasi, baik karena hancur maupun digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi, sehingga anak-anak yang kembali tidak punya tempat untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Rumah sakit yang tidak hancur pun telah dijarah dan hanya beroperasi sebagian.

Listrik hanya tersedia beberapa jam sehari.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button