RESONANSI

Krisis Adab Zaman Digital: Influencer Lebih Didengar daripada Ulama

Oleh: Fajri, Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya secara spontan kepada sejumlah siswa di sela-sela kegiatan sekolah mengenai tokoh yang paling sering mereka ikuti di media sosial. Jawaban mereka datang begitu cepat dengan menyebutkan deretan nama influencer, podcaster, hingga kreator konten yang sedang viral tanpa ragu.

Sebagian siswa bahkan mengetahui secara detail jumlah pengikut para figur publik tersebut yang mencapai jutaan. Mereka sangat tahu siapa yang sedang ramai diperbincangkan, siapa yang sedang berdebat di jagat maya, dan video siapa yang paling sering muncul di beranda.

Namun, suasana langsung berubah ketika saya bertanya tentang ulama yang sering mereka dengarkan atau kitab yang pernah mereka baca sampai selesai dalam beberapa bulan terakhir. Jawaban tidak lagi mengalir deras dari lisan mereka, bahkan sebagian siswa hanya tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat.

Pengalaman sederhana itu seketika membuat saya merenung tentang sebuah perubahan besar yang tidak banyak disadari oleh kita semua. Perubahan sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar masalah teknologi atau gaya hidup, melainkan cara masyarakat menentukan siapa sosok yang layak didengar.

Dalam tradisi Islam, otoritas seorang tokoh lahir dari kedalaman ilmu yang dikuasainya melalui sebuah proses belajar yang sangat panjang. Namun di era media sosial, ukuran tersebut perlahan bergeser karena seseorang sering kali didengar bukan karena paling berilmu, melainkan karena paling terlihat.

Kita kini hidup pada zaman ketika perhatian publik telah menjadi komoditas digital yang paling berharga. Mereka yang mampu menarik perhatian akan memperoleh panggung, menguasai pengikut, dan perlahan dianggap memiliki otoritas keilmuan.

Fenomena pergeseran ini tidak hanya melanda dunia hiburan atau politik, tetapi juga sudah merambah ke dalam dunia keagamaan. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial berkali-kali diramaikan oleh berbagai konten keagamaan yang mendadak viral.

Potongan ceramah berdurasi satu menit dapat menyebar ke berbagai platform dalam hitungan jam saja. Akibatnya, tantangan debat agama kini menarik perhatian ribuan penonton, di mana respons terhadap satu video akan terus melahirkan video baru.

Publik pun akhirnya mengikuti jalannya perdebatan agama tersebut sebagaimana mereka menikmati sebuah pertandingan olahraga. Padahal dalam sejarah Islam, tradisi diskusi dan perdebatan ilmiah memiliki tempat serta adab yang luhur tersendiri.

Para ulama terdahulu memang saling berdialog dan beradu argumentasi untuk mencari kebenaran yang hakiki. Namun, perdebatan di media sosial hari ini sering kali lebih dekat dengan motif perebutan perhatian penonton.

Penilaian tidak lagi dihitung berdasarkan kekuatan argumentasi semata, melainkan dari jumlah tayangan dan riuhnya dukungan digital. Dampaknya, banyak orang lebih mengenal siapa sosok yang memenangi perdebatan daripada substansi hukum agama yang sedang diperdebatkan.

Fenomena ini sejalan dengan peringatan Tom Nichols dalam bukunya yang berjudul The Death of Expertise. Nichols mengingatkan bahwa masyarakat modern sedang mengalami krisis penghormatan yang akut terhadap sebuah kepakaran.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button