Lahir Terlalu Cepat, Bayi Prematur Berjuang Bertahan Hidup di Gaza
“Alih-alih menggendong dan merayakan kelahiran bayi mereka, para ibu justru melihat bayinya langsung dipindahkan ke inkubator atau ruang perawatan intensif. Ketakutan mereka menjadi berlipat ganda karena perang telah memengaruhi segala hal, mulai dari peralatan medis, pasokan obat, listrik, hingga kepadatan rumah sakit,” ujar Dr. Abu Hasaballah.
“Kami bekerja siang dan malam tanpa tidur, melakukan segala yang kami mampu untuk menyelamatkan setiap anak. Namun dalam banyak kasus, kebutuhan bayi jauh lebih besar daripada sumber daya yang tersedia.”
Tantangan Baru Setelah Pulang dari Rumah Sakit
Setelah ibu dan bayi diperbolehkan pulang, perjuangan baru pun dimulai. Kondisi kesehatan ibu yang telah melemah akibat perang membuat mereka kesulitan merawat bayi. Berbagai kebutuhan penting seperti alat sterilisasi botol, susu formula, hingga perlengkapan bayi sulit ditemukan atau harganya tidak terjangkau.
“Banyak keluarga kehilangan segalanya akibat pengungsian. Para ibu tidak memiliki pakaian bayi, popok, selimut, susu formula, bahkan air bersih,” kata Dr. Abu Hasaballah.
Di Kamp Pengungsi Nuseirat, Yayasan Qutoof Al-Khair membantu ibu hamil dan bayi baru lahir dengan menyediakan vitamin, suplemen gizi, obat-obatan, serta perlengkapan medis penting.
Akram Abu Jiab, pimpinan yayasan tersebut, mengatakan bahwa permintaan bantuan terus meningkat dari para ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan karena mereka kesulitan memperoleh makanan maupun layanan kesehatan yang memadai.
“Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus serta pemantauan medis secara terus-menerus, bahkan setelah mereka keluar dari inkubator,” katanya.
“Namun banyak keluarga menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan medis dan gizi dasar anak-anak mereka.”
Meski yayasan berusaha menjangkau sebanyak mungkin ibu dan bayi, kemampuan mereka sangat terbatas.
“Skala kebutuhan jauh melampaui sumber daya yang tersedia. Kesenjangan antara kebutuhan dan bantuan terus bertambah setiap hari,” ujarnya.
Ia menutup dengan mengatakan: “Di balik setiap bayi yang lahir di Gaza, ada seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya dalam keadaan yang luar biasa sulit. Mendukung para ibu dan anak-anak pada tahap ini bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah kebutuhan untuk melindungi kehidupan generasi berikutnya.” []
Eman Abu Zayed
Sumber: Aljazeera.com






