Lailatul Qadar: Hikmah Dirahasiakan dan Upaya Meraihnya
Di antara hal yang membedakan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain adalah ada malam lailatul qadar. Apa itu malam Lailatul Qadar? Al-Qur’an menjawabnya dalam surah Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
“Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Al-Qur’an menyebutkan secara jelas adanya malam Lailatul Qadar, namun ia tidak menyebutkan kapan malam itu terjadi. Dengan demikian, para ulama berselisih pendapat; ada yang berpendapat bahwa malam itu hanya ada pada masa Nabi Muhammad Saw., sehingga setelah beliau wafat, malam yang mulia itu ikut tidak ada lagi. Namun pendapat ini dinilai lemah berdasarkan riwayat dari Imam al-Nasa’i dan Imam Ahmad, bahwa Sahabat Abu Dzar bertanya kepada Nabi Muhammad Saw., “Apakah malam Lailatul Qadar hanya ada bersama para nabi selama mereka masih hidup, lalu ketika mereka wafat ia diangkat (tidak ada lagi), ataukah ia tetap ada hingga hari kiamat?” Nabi Saw. menjawab: “Bahkan ia tetap ada hingga hari kiamat.”
Ada yang berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar ada pada setiap bulan, bukan hanya di bulan Ramadhan. Namun, pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa malam itu hanya ada di bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada banyak riwayat. Di antaranya Nabi Saw. bersabda dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Ra., “carilah (usahakan untuk mendapatkan) Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Upaya Nabi Saw. untuk Menemukan Malam Lailatu Qadar
Dirangkum dari uraian Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Laṭā’if al-Ma‘ārif; pada mulanya Nabi Muhammad Saw. telah mulai mencari malam Lailatul Qadar sejak malam pertama bulan Ramadan. Kemudian Nabi Saw. mencarinya pada sepuluh hari kedua (tengah), yakni pada tanggal 14, 17, dan 19 Ramadan.
Selanjutnya, pada suatu malam di sepuluh hari terakhir, Nabi Saw. diperlihatkan malam Lailatul Qadar, namun kemudian Allah membuat beliau lupa pada malam ke berapa hal itu diperlihatkan. Setelah itu beliau bersabda agar malam Lailatul Qadar dicari pada sepuluh malam terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil. Demikian penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali berdasarkan beberapa riwayat yang beliau kemukakan.
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa malam Lailatul Qadar merupakan salah satu rahasia Allah Swt. Namun melalui Nabi Saw., Allah telah mempersempit waktu terjadinya, yaitu pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Meskipun demikian, sebagaimana lazimnya rasa ingin tahu manusia, masih saja ada yang menanyakan tanggal pastinya malam tersebut terjadi.
Pertanyaan inilah yang membuat Nabi Saw. marah ketika ditanya oleh salah seorang sahabat. Setelah beliau menjawab bahwa malam Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan, orang itu masih bertanya, “Pada bagian mana dari Ramadhan ia terjadi?” Beliau menjawab, “Carilah ia pada sepuluh hari pertama atau sepuluh hari terakhir.”
Lalu orang itu bertanya lagi, “Pada sepuluh yang mana dari dua puluh itu?” Beliau menjawab, “Carilah ia pada sepuluh hari terakhir, dan jangan kalian bertanya lagi kepadaku tentang hal itu setelah ini.” Namun orang tersebut berkata, “Aku bersumpah kepadamu demi hakku atasmu agar engkau memberitahuku pada sepuluh yang mana ia terjadi.”
Maka beliau pun marah, lalu bersabda, “Carilah ia pada tujuh malam terakhir, dan jangan kalian bertanya lagi tentang hal itu setelah ini.” (HR. Ahmad).
Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatul Qadar
Dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi Saw. bersabda pada suatu pagi tanggal dua puluh Ramadhan, “Sesungguhnya aku telah diperlihatkan tentang Lailatul Qadar, kemudian aku dibuat lupa tentangnya—atau aku melupakannya. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir (bulan Ramadhan), pada malam-malam yang ganjil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini dan hadis-hadis lainnya memberikan kesan bahwa Allah memberikan kepastian adanya malam Lailatul Qadar bagi umat Nabi Muhammad Saw., namun Allah merahasiakan kepastian kapan malam itu terjadi.
Tentu ada hikmah di balik rahasia ini. Di antaranya, Allah merahasiakannya agar manusia berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh malam di bulan Ramadhan untuk meraih malam agung tersebut. Berbeda jika sudah ditentukan secara pasti pada malam tanggal tertentu; bisa jadi kesungguhan ibadah hanya tertuju pada malam itu saja.
Hal ini serupa dengan kematian dan datangnya Hari Kiamat. Allah memberikan kepastian akan datangnya dua hal tersebut, namun Allah merahasiakan kapan terjadinya agar manusia senantiasa bersiap sepanjang hidupnya dengan melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya.
Menanyakan secara pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi dapat diibaratkan seperti pertanyaan seorang anak kepada orang tuanya: “Apa hadiah yang akan diberikan ketika aku mendapatkan peringkat satu, Ayah/Ibu?” ketika orang tuanya menjanjikan hadiah jika ia meraih peringkat pertama. Hal itu dilakukan agar si anak lebih giat dalam belajar dan mengerjakan soal ujian.
Menyambut Malam Lailatul Qadar
Sepanjang perjalan sejarah umat manusia, umat Nabi Muhammad Saw. merupakan memiliki usia terpendek dibanding dengan usia umat-umat sebelum beliau. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah Swt. dalam surah At-Taubah ayat 69:
كَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَّاَكْثَرَ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۗ …الاية.
“(Kamu, orang-orang munafik,) seperti orang-orang sebelummu. Mereka lebih kuat daripada kamu dan lebih banyak harta dan anak-anaknya.”
Menurut Muhammad al-Tahir ibn Ashur dalam Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, di antara sebab umat-umat terdahulu memiliki banyak anak adalah adanya keamanan yang membuat jiwa-jiwa dapat tetap hidup. Selain itu, adanya kesuburan (kemakmuran) yang berpengaruh pada kuatnya tubuh dan keselamatan dari kelaparan yang sering berakibat pada kematian. Juga karena baiknya iklim, yang membuat manusia selamat dari wabah-wabah mematikan.
Sementara itu, dalam rentang abad ke-19 hingga abad ke-21, usia terpanjang manusia tercatat sekitar 122 tahun. Adapun rata-rata angka harapan hidup penduduk Indonesia berkisar antara 73,9 hingga 74 tahun. Padahal pada masa ini ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan berkembang, termasuk dalam bidang kedokteran.
Banyak penyakit beserta obatnya telah ditemukan. Namun demikian, muncul pula berbagai penyakit yang menimbulkan banyak kematian, tidak hanya pada mereka yang berusia lanjut, tetapi juga pada anak-anak.
Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Al-Wahidi dari Mujahid ibn Jabr bahwa Rasulullah Saw. pernah menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil yang mengenakan senjata dan berjihad di jalan Allah selama seribu bulan (83 tahun 4 bulan). Para sahabat pun merasa takjub terhadap hal tersebut. Lalu turunlah firman Allah dalam Surah Al-Qadar.
Lalu bagaimana kita menyambut malam Lailatul Qadar itu? Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Sesungguhnya para raja dan pemimpin tidak menyukai seseorang memasuki istana mereka sebelum mereka menghiasi istana itu dengan hamparan dan permadani, serta menghiasi para pelayan mereka dengan pakaian dan senjata.
Demikian pula, apabila malam Lailatul Qadar tiba, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi. Hal itu karena para hamba telah menghiasi diri mereka dengan ketaatan, seperti puasa dan salat pada malam-malam Ramadan, dan mereka menghiasi masjid-masjid mereka dengan lampu-lampu dan pelita.”
Perilaku raga merupakan cerminan keadaan jiwa (hati). Jika jiwanya baik, maka baik pula perilaku raganya, dan demikian pula sebaliknya. Dalam menyambut malam yang penuh kemuliaan itu, tentu kita tidak hanya membatasi diri dengan perilaku baik secara lahiriah saja, tetapi juga memperbaiki keadaan batiniah.
Kita membersihkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela seperti ujub, sombong, dengki, dan lainnya. Kita tanamkan pula dalam hati rasa khawatir kepada Allah—khawatir bahwa amal baik yang kita lakukan tidak diterima oleh-Nya. Di samping itu, kita juga menumbuhkan harapan kepada-Nya, semoga Dia Yang Maha Pemurah menerima amal baik kita, mengampuni kesalahan serta kekurangan kita, dan dengan rahmat serta kasih sayang-Nya melipatgandakan pahala amal kebaikan kita.
“Wahai saudara-saudaraku, yang menjadi sandaran adalah diterimanya amal, bukan sekadar kesungguhan dalam beramal. Yang menjadi ukuran adalah kebaikan hati, bukan hanya perbuatan anggota badan. Betapa banyak orang yang berdiri (shalat malam), tetapi bagiannya dari qiyamnya hanyalah terjaga dari tidur.
Berapa banyak orang yang berdiri namun terhalang dari rahmat, dan berapa banyak orang yang tidur tetapi mendapatkan rahmat. Ada orang yang tidur tetapi hatinya berzikir, dan ada pula yang bangun beribadah tetapi hatinya durhaka.
Namun demikian, seorang hamba tetap diperintahkan untuk berusaha, mencari kebaikan, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan amal-amal saleh.” Demikian tulis Ibnu Rajab al-Hanbali.
Penutup
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa malam Lailatul Qadar merupakan karunia agung dari Allah Swt. bagi umat Nabi Muhammad Saw.
Meskipun waktunya dirahasiakan, Allah telah memberikan petunjuk agar ia dicari pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Hal ini dimaksudkan agar kaum Muslimin bersungguh-sungguh memperbanyak ibadah, tidak hanya pada satu malam tertentu, tetapi sepanjang akhir Ramadhan.
Karena itu, sudah sepatutnya kita menyambut malam-malam mulia tersebut dengan memperbanyak amal saleh, memperbaiki lahir dan batin, serta memohon kepada Allah agar amal-amal kita diterima. Wallāhu a‘lam.[]
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






