Lebih Asyik Menulis Menggunakan Pikiran Sendiri daripada dengan AI
Hari ini, Sabtu (23/05/2026), saya mengadakan pelatihan menulis di Gedung Perpustakaan Depok untuk menekankan pentingnya kreativitas sendiri serta pentingnya ide-ide orisinal dalam pengembangan tulisan.
Saya akan menyampaikan materi tentang penulisan liputan, opini, dan juga kolom.
Pelatihan yang cuma berlangsung selama dua jam ini tentu hanya memberikan dasar-dasar bagi penulisan jurnalistik, sehingga selebihnya para peserta sendiri yang harus mengembangkan kemampuan menulisnya.
Penulisan liputan atau reportase merupakan penulisan paling dasar di dalam dunia jurnalistik.
Seorang wartawan pemula akan diharuskan untuk melakukan liputan langsung di lapangan dan kemudian menuliskannya menjadi berita.
Bila ia mampu untuk melakukan liputan dan menuliskannya dengan bagus, maka itu merupakan dasar yang kuat baginya untuk menulis dengan bagus hal-hal lainnya yang lebih serius.
Penulisan opini dan kolom pada dasarnya adalah sama, namun kolom biasanya diberikan oleh redaksi secara khusus kepada para penulis yang sudah ahli, sedangkan opini bebas untuk siapa saja.
Menulis opini tentu saja tidak cukup dengan mengandalkan opini dari penulis belaka karena ia harus memperkuatnya dengan data-data dan pendapat para ahli mengenai tema yang ia bahas.
Makin banyak atau kuat data yang ia tampilkan ditambah dengan pendapat para ahli yang kompeten di bidangnya, maka tulisan tersebut akan menjadi makin berbobot.
Untuk menulis sebuah tulisan opini yang bagus, biasanya proses yang memakan waktu paling lama adalah bagian risetnya.
Penulis perlu banyak membaca buku, media, atau konsisten mengikuti perkembangan masalah terkait tema yang akan ditulisnya.
Teknologi AI ternyata juga memiliki banyak kelemahan karena berkali-kali penulis mengetes AI tentang isi sebuah buku, AI sering kali menjawabnya dengan ngawur.
Jadi, bila AI tidak tahu tentang informasi tertentu, ia biasanya akan menjawab dengan seenaknya saja, sehingga para penulis harus sangat hati-hati dalam menggunakan AI.
Begitu pula tentang sejarah, di mana AI juga kadang-kadang ngawur dalam menyajikan peristiwa atau datanya.
Maka cara paling aman dalam menulis adalah dengan menggunakan referensi buku, media cetak, atau minimal melalui Google search karena Google tidak ngawur seperti AI.
Sekali lagi, marilah kita berlatih menulis dengan mengandalkan pikiran kita sendiri.
Keindahan kata-kata yang lahir dari otak kita sendiri jauh lebih indah daripada mesin komputer, dan kata-kata yang lahir dari pikiran kita sendiri juga jauh lebih menyentuh daripada AI.
“The mind is not a vessel to be filled but a fire to be kindled.” “Pikiran bukanlah bejana yang harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan.” (Plutarch)
“Technology is a useful servant but a dangerous master.” “Teknologi adalah pelayan yang berguna, tetapi tuan yang berbahaya.” (Christian Lous Lange)






