Madrasah Ramadaniyyah: Evaluasi di Akhir Bulan Ramadhan
Zakat Fitrah sebagai “Remidi”
Ketika telah melakukan evaluasi ada kegiatan pembelajaran perbaikan yang diberikan kepada murid yang belum mencapai ketuntasan belajar yang disebut dengan remidi. Dalam konteks madrasah Ramaḍāniyyah juga ada “remidi” yaitu dengan mengeluarkan zakat fitrah di akhir bulan Ramadhan.
Menurut Imam Ibnu Rajab ada dua golongan orang-orang yang berpuasa, yaitu: (1) orang yang meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Allah Ta‘ala, dengan mengharap ganti dari-Nya di surga. (2) mereka yang berpuasa di dunia dari segala sesuatu selain Allah.
Mereka menjaga kepala beserta apa yang ada di dalamnya, menjaga perut beserta apa yang dikandungnya, mengingat kematian dan kehancuran, serta menginginkan akhirat sehingga mereka meninggalkan perhiasan dunia.
Meskipun demikian, saat berpuasa seseorang tidak lepas dari adanya kekurangan atau cacat. Sedekah dapat menutupi kekurangan dan cacat yang ada dalam puasa. Karena itulah diwajibkan di akhir bulan Ramadhan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji.
Penutup
Dengan demikian, di penghujung Ramadhan sudah sepatutnya setiap muslim atau muslimah melakukan muhasabah atas seluruh amal yang telah dilakukan, khususnya dalam ibadah puasa, apakah telah benar-benar mengantarkan pada tujuan utamanya, yaitu takwa.
Muhasabah ini tidak hanya dilihat dari aspek ibadah lahiriah, tetapi juga dari perubahan sikap, pengendalian diri, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masih terdapat kekurangan, maka zakat fitrah menjadi sarana penyempurna dan pembersih bagi cacat-cacat tersebut.
Melalui muhasabah ini, diharapkan kita dapat “sayonara” dari bulan Ramadhan, dan dengan seizin Allah, dapat berjumpa dengan bulan Syawal dengan meraih dua kebahagiaan sebagai disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw.:
ولِلصّائِمِ فرحَتانِ: فرحةٌ حينَ يُفطِرُ، وفَرحةٌ حينَ يَلقى رَبَّه
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka (lebaran), dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.” (Hr. al-Bukhari dan Muslim).
Wallāhu a’lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.






