Melogikakan Isra Mikraj dalam Spiritualitas yang Kering
Dengan bersatunya logika dan spiritual, kemudian dijalankan secara beriringan, maka manusia akan dapat memahami bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya, dari apapun yang ada dunia dan alam semesta ini, yang mampu mengatur segalanya, yang tak bisa dijangkau dengan akal. Yakni, kekuatan memberikan kehidupan, kekuatan berada di balik terciptanya alam semeta, Kekuatan yang memiliki mukjizat. Yaitu, Kekuatan Sang Pencipta (Al Khaliq), Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekuatan yang termasuk mengatur terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa yang tak lain merupakan mukjizat dari-Nya.
Mukjizat yang Ia tegaskan dalam firman-Nya di Surat Al Isra’ ayat pertama, yang artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’, 17:1)
Secara makna, Isra adalah perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah naik ke atas dengan tangga.
Pengertian secara keseluruhan Isra Mikraj adalah diperjalankannya Nabi Muhammad Saw oleh Allah di malam hari dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem, Palestina) sebagai Isra’, dinaikkannya Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha (suatu tempat di mana tidak ada satu pun yang mampu mendatanginya dan tempat yang tidak mungkin ditangkap oleh indra manusia), dengan menembus lapisan langit ke-7, sebagai Mi’raj.
Bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram yang berada di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina yang berjarak 1.462 km, dilanjutkan perjalanan vertikal menembus langit ke-7 terjadi hanya satu malam saja jika tanpa kekuatan dari yang Maha Besar, yang Maha Kuat, Maha Perkasa, yakni Allah SWT, yang membawa Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan itu.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pernah mengatakan, “Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan manusia untuk terus berkembang dalam ilmu dan teknologi”. Yang artinya, ilmu dan teknologi manusia belum menjangkau atau mencapai dalam menganalisa dan melogikakan peristiwa Isra Mikraj. Justru Isra Mikraj lah yang mengajarkan kepada manusia untuk terus mengembangkan teknologi, ilmu dan kemampuan akalnya. Inilah, tantangan sesungguhnya Allah Ta’ala kepada manusia untuk menjalankan logikanya dengan dilandasi, didasarkan, dan disandarkan oleh spiritulitas keimanannya. Dan, spiritualitas yang ditunjang dengan logika yang dimilikinya.
Dengan begitu, manusia secara komprehensif dan paripurna bisa memahami diri dan hidupnya, tujuan hidupnya, serta meyakini bahwa ada Kekuatan yang Maha Besar, Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Segalanya, di luar manusia dan alam semesta. Juga mengakui bahwa apa pun yang tidak mungkin (mustahil) terjadi di mata manusia, sangat mungkin terjadi jika Allah SWT berkehendak.
Lantas, masih kah meragukan (peristiwa) Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw dengan hanya bermodal logika yang lemah dan spiritualitas yang kering, wahai manusia –yang katanya- modern?[]
*Kolumnis, Bukan Santri Pondok Pesantren.






