Membedah Makna Bismillahirrahmanirrahim
“وَيَشْعُرُ أَنَّهُ لَا يَسِيرُ وَحْدَهُ، بَلْ فِي مَعِيَّةِ اللَّهِ، وَفِي رِعَايَتِهِ، وَتَحْتَ ظِلِّ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ.”
“Dan ia merasakan bahwa ia tidak berjalan sendirian, melainkan bersama Allah, dalam penjagaan-Nya, dan di bawah naungan (kasih sayang) Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm.”
“فَلَيْسَتْ مُجَرَّدَ لَفْظٍ، وَلَكِنَّهَا حَقِيقَةٌ يَعِيشُهَا الْقَلْبُ، وَيَسْتَمِدُّ مِنْهَا الْقُوَّةَ وَالطُّمَأْنِينَةَ.”
“Ia bukan sekadar lafaz, tetapi merupakan hakikat yang dihayati oleh hati, yang darinya ia mengambil kekuatan dan ketenangan.”
Menurut Sayid Qutb, lafaz Bismillah menunjukkan pertama, ittishāl, keterhubungan dengan Allah. Kedua, Isti‘ānah, memohon pertolongan kepada Allah. Ketiga, barakah, mengharap keberkahan dari Allah. Keempat, tazkiyah, membersihkan niat dari riya/pamer, kesombongan dan kepentingan dunia semata.
Sayid Qutb menyatakan, ”Ia memulai setiap gerak dengan menyebut nama Allah, sehingga seluruh hidupnya berada dalam naungan Ilahi (yang menjadikan ia) tenang, terarah, dan penuh makna.”
Ulama besar ini juga menyatakan bahwa jika seseorang benar-benar hidup dengan Bismillāh, maka ia tidak akan mudah putus asa, tidak sombong saat berhasil, tidak takut menghadapi kesulitan dan selalu merasa bersam Allah. Jadi Bismillah adalah adalah deklarasi tauhid dalam setiap perbuatan
- bahwa hidup, gerak, dan tujuan manusia semuanya terikat kepada Allah.
Sedangkan Imam Qurthubi dalam Tafsirnya Al Jami’ Liahkamil Quran menyatakan,” Firman Allah Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm mengandung beberapa pembahasan:
Pertama: huruf ‘ba’ dalam ‘Bismillāh’ adalah ‘ba’ isti‘ānah (memohon pertolongan). Ada pula yang mengatakan ‘ba’ kebersamaan (ma‘iyyah), namun pendapat pertama lebih kuat, karena seorang hamba memulai urusannya dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala.
Kata ‘ism’ (nama) berasal dari makna ketinggian (sumuww), dan di dalamnya terdapat pengagungan terhadap yang dinamai.
Adapun lafaz ‘Allah’, maka ia adalah nama yang paling agung, yang tidak digunakan oleh selain-Nya, dan mencakup seluruh sifat kesempurnaan.
Adapun ‘Ar-Raḥmān’ dan ‘Ar-Raḥīm’, keduanya berasal dari rahmat. ‘Ar-Raḥmān’ lebih kuat maknanya karena menunjukkan luasnya rahmat, dan ia mencakup seluruh makhluk. Sedangkan ‘Ar-Raḥīm’ khusus bagi orang-orang beriman.
Dan dalam ayat ini terdapat dalil tentang mengambil keberkahan dengan menyebut nama Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, serta adab dalam memulai dengan nama-Nya Yang Mahasuci.”
Selanjutnya Imam Qurthubi mengutip hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa: “Jika seorang hamba mengucapkan Bismillah, Allah berfirman: hamba-Ku memulai dengan nama-Ku, maka menjadi kewajiban-Ku untuk menyempurnakan urusannya dan memberkahinya.“
Maka menurut pakar tafsir ini, “Menyebut nama Allah saat memulai segala urusan adalah bentuk meneladani Kitab Allah dan beradab dengan adab syariat.” Menurutnya Basmalah bukan hanya lafaz, tetapi juga persoalan ilmu, fiqih, adab, dan keberkahan dalam hidup seorang muslim.
Sedangkan menurut Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsirnya “Mafatihul Ghaib“, ia menyatakan,
“Ketahuilah bahwa ucapan “Bismillāh ar-Raḥmān ar-Raḥīm” mengandung rahasia-rahasia yang agung. Karena ketika seorang hamba mengucapkan “Bismillah”, seakan-akan ia berkata: Aku memulai perbuatan ini dengan memohon pertolongan kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan menyerahkan urusanku kepada-Nya.
Adapun lafaz “Allah”, maka ia adalah nama yang menunjukkan Zat yang khusus, yang wajib ada (wājib al-wujūd), dan yang berhak atas segala bentuk pujian dan pengagungan.
Sedangkan “ar-Raḥmān ar-Raḥīm”, mengandung isyarat bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Seorang hamba melakukan ketaatan karena mengharap rahmat-Nya, dan meninggalkan maksiat karena takut akan siksa-Nya.
Dan ketahuilah bahwa mendahulukan penyebutan rahmat menunjukkan bahwa sisi karunia dan kebaikan lebih dominan daripada sisi hukuman dan pembalasan. Karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
Maka keseluruhan kalimat ini menjadi peringatan bahwa seorang hamba tidak seharusnya memulai sesuatu kecuali dengan menyadari kebutuhannya kepada Allah, bergantung kepada-Nya, berharap rahmat-Nya, dan takut terhadap azab-Nya.“






