Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad saw
Meneladani akhlak Rasulullah saw. adalah satu bentuk tanda kecintaan seorang Muslim kepada Baginda Rasulullah saw. Hal ini dikarenakan kesempurnaan pribadi Rasulullah saw. yang memiliki akhlak yang sangat agung.
Allah Swt. berfirman:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4).
Selain itu, tanda cinta kepada Baginda Rasulullah saw. adalah membacakan selawat baginya. Allah Swt. dan para malaikat senantiasa berselawat kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْa صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Karena itu, akhlak yang baik adalah mengikuti seluruh perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya, serta berselawat kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw.
Sehingga, di setiap kesempatan seorang Muslim akan senantiasa berselawat kepada Nabi besar Muhammad saw., baik sedang sendirian maupun di tempat ramai, sedang santai maupun sibuk.
Selain itu, akhlak yang baik yang dicontohkan oleh Nabi saw. adalah berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu dengan menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Beliau juga menjamunya dengan baik, bersilaturahmi dengan kaum kerabat, bermurah hati dengan rajin bersedekah, serta menjauhkan diri dari gibah, fitnah, dan adu domba.
Lebih jauh lagi, akhlak mulia yang dicontohkan oleh Baginda Nabi saw. adalah tegas terhadap kesyirikan dan kekufuran, serta berkasih sayang terhadap sesama kaum Muslimin. Hal ini digambarkan dalam Al-Qur’an.
Allah Swt. berfirman:
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُكَعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَwٰى عَلٰى سُوْقٖe يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًاࣖ
“Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Fath: 29).
Demikianlah cara meneladani akhlakul karimah Rasulullah Muhammad saw., yaitu dengan melaksanakan seluruh perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Sebab, sejatinya akhlak adalah buah dari pelaksanaan hukum syariat. Wallahualam.[]






