IBRAH

Menggali Hikmah di Balik Talbiyah

Apakah ada kekuasaan miliknya yang perlu dibanggakan? maka Fir’aun adalah manusia paling berkuasa di bumi yang menobatkan dirinya sebagai Tuhan, saat itu lenyap ditelan badai laut dan kekuasaannya tak dapat menolongnya sedikitpun.

Apakah ada kekayaan harta miliknya yang perlu dibanggakan, maka Qarun dan harta kekayaannya tidak mampu menyelamatkan dirinya ketika datang azab Allah dengan dibenamkan dalam perut bumi.

Apakah ada ilmu miliknya yang perlu dibanggakan, maka disana masih ada orang yang lebih berilmu membuat Nabi Musa As terhina dihadapan Nabi Khidhir. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an (S. Al- Kahfi [18 ]: 65-82). Dan Allah Mahaluas ilmu-Nya: “Dan diatas orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu”. (QS. 12 : 76)

Maka kalimah Talbiyah mengikis sifat angkuh, sombong dan takabur yang dapat mengundang malapetaka dalam hidup ini, seperti yang terjadi pada diri Iblis la’natullah ‘alaih. Sifat takabbur membuat seseorang mudah meremehkan orang lain, dan enggan mendengar dan menerima kebenaran yang datang orang lain.

Lalu muncul di benak ini sebuah pertanyaan yang mengusik. Mengapa kaum wanita diperintahkan untuk berbusana bebas dan rapi dalam ihram, berbeda dengan pria?

Allah SWT seperti memberi isyarat, agar kaum wanita harus diberi perlindungan dan ditempatkan pada posisi yang terhormat dalam kehidupan sosial masyarakat.

Karena dari rahim perempuan-lah lahir para pemimpin dan tokoh, para syuhada dan pahlawan, para pendidik dan pemikir. Mereka tidak mungkin lahir dari rahim wanita jalanan yang bejat moral dan rendah akhlaknya.

Seorang ibu adalah madrasatul uula, sekolah pertama sebelum ada PAUD, TK, dan SD, karena itu kaum wanita calon ibu rumah tangga patut memperoleh penghormatan dan perlindungan dalam ajaran Islam.

Kapan Talbiyah Diucapkan

Kalimah Talbiyah ini diucapkan bersamaan dengan betikan suara hati dan jalinan niat. “Naawai-tul ‘Umrata Lillahi Ta’ala.” (Aku berniat umrah karena Allah).

Dan pada detik yang sama, bibirpun bergerak mengucapkan: “Allahumma Umratan la riya’an fiiha wa la sum’atan” (Ya Allah aku berniat Umrah karena Engkau, tidak karena riya’ dan sum’ah, tidak untuk dilihat dan didengar oleh orang). (HR.Ibnu Majah No. 2890)

Begitulah saat Rasulullah Saw memasang niat, hati terdorong ikhlas, bersamaan dengan itu bibirpun bergerak mengucapkan Talbiyah. “Labbaiyka Umratan, Labbaiyka Allahumma labbaiyk, Labbaiyka la syariika laka labbaiyk, innal hamda wanni’mata laka wal mulk, la syariika lak.

Menurut para Ulama, Talbiyah hendaknya diucapkan dengan suara nyaring bagi laki-laki dan dengan suara rendah bagi perempuan, suaranya cukup didengar sendiri di telinga atau oleh orang yang berada disampingnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button