IBRAH

Menggali Hikmah di Balik Talbiyah

Rasulullah saw bersabda: “Datang kepadaku Malaikat Jibril as seraya berkata: Wahai Muhammad, suruhlah Sahabat-Sahabatmu mengeraskan (meninggikan) suara mereka dalam bertalbiyah.” (HR.An-Nasa’i No.2753, Tirmidzi , Abu Daud , Ibnu Majah).

Dan Talbiyah baru berhenti dilantungkan setelah thawaf dimulai, ditandai dengan ucapan takbir, Bismillahi Allahu Akbar.

Makna Talbiyah

Bagi orang Arab, menjawab panggilan seseorang dengan lafadz Labbaiyk menunjukan keseriusan, kesungguhan, penuh keramah tamahan, dan kesiapan untuk segera memenuhi panggilannya.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani pensyarah Shahih Bukhari, menjelaskan bahwa akar kata Talbiyah mempunyai banyak arti.

  1. Labbaika artinya, dengan segera kami penuhi panggilan-Mu, kami sambut seruan-Mu dan kami laksanakan perintah-Mu.
  2. Labbaiyka artinya, kami siap merapat dan menuju kesana dan hanya tertuju kepada-Mu.
  3. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu demgan senang hati dan penuh rasa cinta. Tidak didasari oleh rasa takut atau mengharapkan sesuatu dari-Mu.
  4. Labbaiyka artinya, kami siap dengan sepenuh hati untuk tunduk patuh, taat dan merapat menjalankan perintah-Mu.
  5. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu dengan hati yg bersih dan ikhlas, tanpa ada perasaan ragu-ragu dan berat hati.
  6. Labbaiyka artinya, kami penuhi panggilan-Mu sebagai jawaban atas seruan Nabi Ibrahim as. (Fathul Baari 3/478)

Hal ini berarti bahwa seorang yang melantungkan kalimah Talbiyah, pada hakikatnya dia sedang memperlihatkan keseriusan, kesungguhan, dan semangat yang tinggi memenuhi panggilan Allah, menyambut seruan-Nya untuk menjalankan ibadah umrah dan haji.

Dan dengan segala keikhlasan hati, penuh cinta kasih dan kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan Allah SWT serta berjanji untuk patuh, tunduk dan taat menjalankan segala perintah-Nya kapanpun dan dimanapun dia berada.

Pertemuan itu ditandai dengan kunjungan ke Rumah-Nya atau Ziarah ke Baitullah dan dengan harapan agar dikabulkan segala permohonannya dan diterima amal ibadahnya.

Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya menyatakan bahwa perbuatan seorang mukmin tidak akan diterima oleh Allah kecuali setelah tepenuhi dua syarat pokok. Yang pertama ikhlas dan yang kedua shawaab (benar).
Ikhlas artinya amalan itu dilakukan dengan hati bersih tanpa ada maksud dan tujuan lain dibalik itu.

Danshawaab adalahittiba’ atau mutaaba’ah yakni selalu mengikuti ketentuan syariat Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Siapa yang kehilangan ikhlas, ia adalah munafiq dan siapa yang kehilangan ittiba’ atau mutaaba’ah ia adalah orang yang tersesat lagi dungu. (Tafsir S. An-Nisa [4] : 124)

Syukur, Sabar dan Tawakkal

Tauhidullah atau mengesakan Allah menuntut setiap muslim untuk menghindari diri dari segala bentuk syirik sekecil apapun. Karena Rasulullah sangat khawatir akan umatnya tertimpa syirik kecil yaitu riya.

Kalimah Talbiyah yang terdiri dari al-hamda, an-ni’mata, al-mulk juga mengajarkan kepada kita untuk senatiasa bersyukur, sabar, dan tawakkal.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button