MUDA

Menjadi Generasi Muda Penerus Perjuangan Pahlawan

Oleh: Ummi Fatih, Ibu Rumah Tangga, Aktivis Dakwah.

“Langkah tegap maju! Jalan!”, teriak komandan pasukan barisan di tengah lomba pawai baris-berbaris menyambut Hari Kemerdekaan.

Sontak, seluruh anggota pasukan menghentakkan kaki secara serentak di atas aspal jalanan. Mereka berusaha memposisikan tubuh agar tegak berjalan bagaikan pasukan pejuang kemerdekaan di masa lalu.

Rasa terharu tentu muncul saat menyaksikan pemandangan tersebut. Pasukan pawai saja merasa lelah setelah berjalan beberapa jam tanpa ancaman musuh, apalagi para pahlawan zaman dahulu yang harus bertaruh nyawa setiap hari. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita mengenang dan meneladani jasa besar mereka.

Namun, layaknya generasi muda meneladani patriotisme pahlawan hanya melalui kegiatan baris-berbaris? Bahkan, cukupkah pembentukan Paskibra di tingkat pusat diklaim sebagai bentuk utama kaderisasi pemuda bangsa?

Dalam laporan sultra.antaranews.com, Presiden Prabowo memberikan pujian bagi para anggota Paskibra tahun 2026 pada 20 Agustus 2026. Beliau menyatakan bahwa pengibaran bendera merah putih merupakan tugas kehormatan yang menyimbolkan perjuangan, persatuan, dan kedaulatan bangsa.

Demi tugas terhormat tersebut, laporan solobalapan.jawapos.com pada 17 Agustus 2026 menyebutkan bahwa negara memberikan apresiasi finansial bagi 76 anggotanya. Setiap anggota menerima uang saku Rp1,5 juta per bulan selama masa pelatihan, serta bonus hingga Rp10 juta setelah perhelatan di Istana Merdeka selesai.

Memahami Makna Generasi Penerus Bangsa

Generasi muda memegang peran utama dalam menjaga dan memperbaiki identitas bangsa. Pemuda memiliki modal fisik dan mental yang jauh lebih kuat, mulai dari usia produktif, energi yang aktif, hingga semangat juang yang tinggi.

Dalam sejarah perjuangan mengusir penjajah Belanda dan Jepang, para pemuda selalu berada di garis depan. Sultan Hasanuddin, misalnya, telah memimpin perlawanan terhadap penjajah sejak berusia 22 tahun.

Tokoh nasional seperti Bung Tomo bahkan telah terlibat dalam pergerakan sejak usia 12 tahun. Pada usia 17 tahun, ia sudah dipercaya menjadi Pandu Garuda dalam pasukan militer Indonesia.

Meskipun saat bertempur para pahlawan muda hanya menggunakan senjata tradisional, penjajah asing yang bersenjata modern kerap kewalahan menghadapi strategi gerilya. Keterbatasan alat tidak memadamkan kecerdasan taktik mereka di medan pertempuran.

Ketika kaum kolonial mendirikan VOC untuk menguasai ekonomi, generasi muda di bawah pimpinan Hos Tjokroaminoto mengubah Syarikat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam. Langkah strategis ini berhasil menyatukan perlawanan fisik dan kekuatan ekonomi umat Islam pribumi.

Kecerdasan berpikir golongan muda merupakan pintu utama yang harus senantiasa diasah. Ilmu yang dikaji secara mendalam oleh para pemuda akan mampu mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil, dan makmur.

1 2Laman berikutnya
Back to top button