Menjaga Jati Diri Pesantren di Tengah Gempuran AI
Lahirnya pesantren modern seperti Gontor menunjukkan bahwa tradisi dan pembaruan dapat berjalan beriringan. Pesantren mampu mengadopsi sistem pendidikan modern dan memasukkan ilmu-ilmu umum tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama pesantren bukanlah kemampuannya menolak perubahan, melainkan kemampuannya berdialog dengan perubahan. Karena itu, fenomena AI dan pergeseran orientasi pendidikan tidak perlu dibaca sebagai ancaman semata.
Keduanya justru dapat menjadi momentum refleksi sekaligus pembaruan. Jika dahulu pesantren berhasil menjawab tantangan modernisasi, maka hari ini pesantren kembali ditantang untuk menjawab tuntutan era digital.
Tantangannya memang berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama, yaitu menjaga akar sambil menumbuhkan cabang. Pada akhirnya, relevansi pesantren ditentukan oleh kemampuannya membawa nilai-nilai luhur masa lalu untuk menjawab persoalan masa depan.
Sejarah telah mengajarkan bahwa pesantren yang bertahan bukanlah pesantren yang menolak perubahan, melainkan pesantren yang mampu membaca zamannya tanpa kehilangan jati diri. Di era AI ini, kemampuan itulah yang akan menentukan masa depan pendidikan Islam Indonesia.[]
*Penulis adalah guru di salah satu pesantren di Aceh.






