Menjaga Jati Diri Pesantren di Tengah Gempuran AI
Konsep Tarjih Tajdid
Tradisi pemikiran Islam Indonesia sebenarnya telah menyediakan kerangka yang relevan untuk menjawab persoalan tersebut. Salah satunya dapat ditemukan dalam konsep tarjih dan tajdid yang berkembang dalam tradisi Muhammadiyah.
Tarjih merupakan upaya memperkuat fondasi dan menjaga kemurnian nilai-nilai dasar Islam. Sementara tajdid adalah keberanian melakukan pembaruan dan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Keduanya bukan konsep yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Jika dianalogikan sebagai pohon, tarjih adalah akar yang menghunjam kuat ke dalam tanah, sedangkan tajdid adalah cabang yang tumbuh menjangkau ruang lebih luas.
Akar yang kuat tanpa cabang yang berkembang akan menghasilkan pohon yang kerdil. Sebaliknya, cabang yang menjulang tinggi tanpa akar yang kokoh akan mudah tumbang diterpa perubahan.
Filosofi ini sangat relevan bagi pesantren di era AI. Akar pesantren adalah adab, akhlak, spiritualitas, tradisi keilmuan, dan khazanah Islam yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Nilai-nilai tersebut merupakan identitas yang tidak boleh hilang. Namun, literasi digital, pemanfaatan teknologi, kemampuan berpikir kritis, dan penguasaan bahasa asing harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan pesantren.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang menempatkan adab sebagai tujuan utama pendidikan. Menurut Al-Attas, pendidikan bukan sekadar proses menghasilkan tenaga kerja, melainkan proses melahirkan manusia yang beradab.
Justru di era AI, gagasan Al-Attas menjadi semakin relevan. Kecerdasan buatan mungkin mampu menghasilkan informasi dalam jumlah tak terbatas, tetapi ia tidak memiliki adab.
AI dapat membantu manusia memperoleh pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan moral manusia dalam menggunakan pengetahuan tersebut. Karena itu, semakin canggih teknologi berkembang, semakin penting pula pendidikan karakter dan adab.
Peluang Keunggulan Pesantren
Di sinilah letak keunggulan pesantren. Ketika banyak lembaga pendidikan berlomba menghasilkan manusia yang kompeten, pesantren memiliki peluang untuk melahirkan manusia yang kompeten sekaligus beradab.
Ketika dunia sibuk berbicara tentang kecerdasan buatan, pesantren dapat menawarkan sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh mesin, yaitu pembentukan karakter dan kedalaman spiritual. Sejarah memberikan alasan bagi kita untuk optimistis karena pesantren bukan lembaga yang asing terhadap perubahan.
Ketika sistem pendidikan modern berkembang pada awal abad ke-20, sebagian kalangan memprediksi pesantren akan kehilangan relevansinya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.






