Menyelamatkan Keluarga dari Fitnah Akhir Zaman
Sidang jemaah yang dimuliakan Allah Swt., Islam tidak pernah membiarkan kita bertarung sendirian di tengah badai akhir zaman.
Islam memberikan solusi yang utuh dan sistematis melalui tiga pilar pertahanan. Benteng pertama berada di dalam rumah, yaitu ketahanan keluarga dan penanaman tauhid.
Luqman al-Hakim memberikan teladan dalam mendidik anak di dalam Al-Qur’an. Kalimat pertama yang disampaikan kepada anaknya bukanlah tentang materi dunia, melainkan nasihat untuk tidak mempersekutukan Allah Swt.
Kita harus menanamkan perasaan bahwa Allah Swt. Maha Melihat atau muraqabatullah. Dengan demikian, ketika anak berada sendirian di kamarnya atau sedang merantau jauh, mereka tetap takut bermaksiat karena menyadari pengawasan Allah Swt.
Namun, benteng keluarga saja tidak cukup tanpa adanya kontrol sosial dari masyarakat sebagai benteng kedua. Masyarakat harus berani menegur kemungkaran dan mendukung setiap kebaikan di lingkungannya.
Benteng ketiga yang paling tinggi adalah peran sistemik dari negara. Dalam Islam, pemimpin adalah perisai (junnah) yang wajib membendung tontonan merusak moral, melarang propaganda penyimpangan seksual, serta menyusun sistem pendidikan berlandaskan akidah dan akhlak.
Sidang jemaah Jumat yang dirahmati Allah Swt., mari kita bersihkan hati dan menanggalkan sejenak urusan perniagaan maupun hiruk-pikuk dunia.
Mari kita membayangkan sebuah hari yang pasti akan kita hadapi di akhirat kelak, yaitu hari kiamat.
Bayangkan di Padang Mahsyar yang terik, ketika Anda merasa langkah sudah dekat dengan pintu surga karena salat, puasa, dan sujud yang dijaga.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang berlari secara histeris. Suara tersebut adalah suara anak kandung yang dahulu Anda timang dan beri fasilitas di dunia.
Namun pada hari itu, anak tersebut berlari bukan untuk memeluk Anda, melainkan mencengkeram leher Anda di hadapan Allah Swt.
Ia berteriak mengadu kepada Rabbul ‘Alamin: “Ya Allah, lihatlah laki-laki ini! Dia adalah ayahku di dunia yang bekerja banting tulang demi memberiku makan dan fasilitas mewah. Namun ya Allah, dia membiarkan aku buta akan syariat-Mu! Dia tidak peduli ketika aku meninggalkan salat, diam saat gawaiku penuh maksiat, dan membiarkan aku hanyut dalam pergaulan yang merusak fitrahku! Dia egois hanya menyelamatkan dirinya sendiri dari neraka, tetapi membiarkan aku terbakar! Ya Allah, hari ini aku tidak ridha masuk neraka sendirian, tarik ayahku bersamaku ke dalam api neraka!”
Allahu Akbar… Allahu Akbar…






