Mladic Mati sebagai Orang yang Bahagia
Ia 'berjuang' agar fasisme menang. Dan itu terwujud.
Oleh: Nidžara Ahmetašević (Akademisi dan Jurnalis Peraih Penghargaan)
Kematian penjahat perang Ratko Mladic menjadi berita utama di seluruh dunia. “Jagal dari Bosnia Meninggal di Den Haag,” demikian media internasional mengumumkan, yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa keadilan setidaknya telah ditegakkan dalam kasusnya.
Namun, tidak ada yang benar-benar berubah pada 22 November 2017 ketika ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY).
Ia dihukum atas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang yang dilakukan di Bosnia lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Tidak ada yang akan berubah sekarang setelah kematiannya.
Berlawanan dengan apa yang mungkin dipikirkan sebagian orang, dunia tidak akan menjadi tempat yang lebih baik saat ini.
Saya benci menulis kalimat ini, tetapi inilah kenyataannya: Mladic telah menang. Ia dan gagasan-gagasannya yang menang.
Ia pasti mati dengan bahagia menyaksikan dunia yang kini dikuasai oleh fasisme—sebuah dunia di mana genosida telah menjadi hal yang dinormalisasi. Bagaimanapun juga, itulah hal yang ia perjuangkan selama hidupnya.
Pada 2017, setelah vonis Mladic dibacakan, saya mengungkapkan kekhawatiran saya dalam sebuah kolom opini yang diterbitkan oleh Al Jazeera.
Saya menegaskan bahwa gagasan-gagasannya belum terkalahkan, melainkan akan menyebar seperti kuman yang kebal obat dengan menyesuaikan diri pada keadaan dan zaman yang berbeda. Sangat menyakitkan melihat ramalan saya tersebut menjadi kenyataan hari ini.
Hal itu terlihat sangat jelas di kawasan Balkan. Di Serbia—sebuah negara yang sedang dipertimbangkan oleh Uni Eropa untuk diterima sebagai anggota—kelangsungan rezim yang berkuasa sangat bergantung pada pemeliharaan ideologi kematian dan pengingkaran.
Setelah berdekade-dekade berlalu sejak perang usai, tidak ada perubahan nyata yang berhasil dicapai.
Kekuasaan President Aleksandar Vucic, seorang politisi yang dianggap setara oleh banyak pemimpin Uni Eropa, dikukuhkan oleh pengingkaran tanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan pada tahun 1990-an di Kroasia, Bosnia, dan Kosovo.
Kemudian ada Bosnia, sebuah negara yang terbelah oleh Perjanjian Dayton yang menghentikan pertumpahan darah tetapi menciptakan negara terpecah yang berjuang keras untuk membangun masa kini, apalagi masa depan.






