Nampak, Menteri Agama Tidak Ada Misi Dakwah kepada Non Islam
Sebagaimana diingatkan Buya Hamka, “Jika Islam tidak diperjuangkan oleh pemeluknya sendiri, maka jangan salahkan sejarah bila umat itu hanya menjadi penonton.”
Seperti diketahui, pada akhir Oktober 2025, Menteri Agama menghadiri International Meeting for Peace di Roma, Italia, yang diselenggarakan oleh Community of Sant’Egidio di dekat Vatikan. Menag turut bertemu dengan tokoh-tokoh agama dunia, termasuk Paus Leo XIV, dan mengenang persahabatannya dengan mendiang Paus Fransiskus—yang pernah mengunjungi Indonesia pada September 2024 dan menandatangani Istiqlal Declaration tentang perdamaian dan dialog.
Dalam pernyataannya, Menag mengungkapkan bahwa kunjungan itu merupakan “momentum memperkuat komitmen kemanusiaan dan dialog antaragama”. Ia berbicara tentang persaudaraan dan nilai-nilai universal dalam forum internasional yang dihadiri pemimpin agama dari berbagai latar.
Bisa dilihat bahwa fokus ceramah dan pidato semacam itu lebih menonjolkan pesan universal tentang peace and harmony daripada penghargaan terhadap keunggulan dan misi dakwah Islam. Bagi sebagian umat, pernyataan seperti ini justru memperkuat kesan bahwa posisi Menag lebih sebagai duta toleransi umum daripada dai negara yang mempromosikan Islam. Terlihat di sana bahwa saat Menag berkampanye di forum lintas iman, tidak terdapat penekanan eksplisit pada keistimewaan Islam dalam konteks dakwah.
Selain itu, tuduhan bahwa Menag mengikuti program yang diselenggarakan oleh lembaga Yahudi di Amerika Serikat memiliki dasar. Berdasarkan laporan kelembagaan dari American Jewish Committee dan Jewish Theological Seminary, ia mengikuti fellowship enam minggu tentang Judaism and Interreligious Relations, yang termasuk pembelajaran akademik dan dialog antaragama di berbagai tempat di Amerika (New York, Washington DC, Los Angeles). Acara yang berlangsung 6 minggu itu berlangsung pada Juni-Juli 2024.
Selama enam minggu di AS, program Nasaruddin Umar berpusat pada studi akademis dasar tentang Yudaisme dan Yahudi. Beasiswanya juga mencakup kunjungan ke puluhan sinagog dan lembaga pendidikan Yahudi, tempat mengeksplorasi berbagai pendekatan terhadap pembelajaran dan kehidupan spiritual Yahudi.
Program ini resmi disebut mereka sebagai upaya memperdalam pemahaman lintas agama, bukan sebagai penggantian identitas Islam, dan mencakup kunjungan ke komunitas Yahudi, dialog dengan akademisi dan tokoh agama dari berbagai tradisi, serta pembelajaran konsep-konsep kerukunan.
Menurut penganjur program, kegiatan semacam ini penting untuk mengatasi stereotip dan misinformasi tentang Islam dan Yahudi, serta membangun mutual understanding. Tokoh Associated Jewish Committee (AJC) dalam siaran yang diunggah menyatakan penghargaan terhadap pendekatan Menag dalam menjalin kerja sama dengan tokoh-tokoh keagamaan lain di AS.
Salah satu Direktur AJC, Ari Gordon sempat dijadwalkan bakal menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Relations Among Abrahamic Religious Communities in History and Today”. Acara itu diagendakan digelar pada 17 Juli 2024 di Perpustakaan Masjid Istiqlal.
Namun, acara tersebut dibatalkan setelah poster-poster acara seminar tersebut viral di media sosial hingga menjadi sorotan publik tanah air. Karena banyak kritik di tanah air, akhirnya kedatangan Ari Gordon ke Indonesia sebagai perwakilan AJC pun dibatalkan.
Imam Islamic Center New York Syamsi Ali, pernah memberikan peringatan kepada negara-negara muslim di dunia, khususnya Indonesia. Menurutnya, saat ini banyak kelompok Yahudi yang mempromosikan zionis Israel ke dunia internasional melalui pendekatan-pendekatan berlabel diskusi lintas agama.
Syamsi Ali menyatakan hal itu harus jadi perhatian khusus bagi banyak pihak terutama umat Islam. Menurutnya, penting untuk jeli dan berhati-hati jangan sampai dialog antar agama hanya dijadikan stempel.






