Negara tanpa Ayah: Catatan Pengasuhan Keluarga 2025
Di era digital, peran ayah semakin meluas sebagai teladan dalam penggunaan teknologi. Anak belajar mengelola waktu layar, emosi, dan hubungan sosial dari apa yang mereka saksikan setiap hari di rumah. Ayah yang larut dalam gawai, tetapi menuntut anak untuk disiplin, justru menyampaikan pesan yang kontradiktif.
Sebaliknya, ayah yang mampu menunjukkan keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan digital memberikan pembelajaran yang jauh lebih bermakna daripada sekadar nasihat verbal.
Menghadapi situasi ini, upaya memperkuat peran ayah tidak dapat dibebankan hanya kepada individu. Dibutuhkan pendekatan sistemik. Pendidikan Kesiapan Berkeluarga (SIAP-GA) perlu menempatkan kesiapan laki-laki menjadi ayah sebagai isu utama, bukan sekadar pelengkap.
Dunia kerja juga perlu menciptakan iklim yang memungkinkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan tanpa stigma. Di sisi lain, layanan konseling keluarga dan pendidikan pengasuhan berbasis ayah perlu mencakup dan diakses secara inklusif.
Keluarga besar dan komunitas dapat berperan sebagai jejaring pendukung ketika ayah menghadapi keterbatasan peran akibat pekerjaan atau kondisi tertentu. Ketahanan keluarga adalah hasil kerja kolektif, bukan semata-mata tanggung jawab individu. Kerangka kerja dan mekanisme tersebut dapat berada dalam payung Kampung Ramah Keluarga .
Indonesia tidak kekurangan ayah secara jumlah. Tantangan kita adalah menghadirkan ayah yang benar-benar hadir secara emosional, terlibat dalam pengasuhan, dan bertanggung jawab terhadap masa depan anak.
Karena kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh kualitas hubungan dalam keluarga hari ini. Negeri yang kokoh bertumpu pada keluarga yang utuh, dan keluarga yang utuh memerlukan ayah yang hadir.[]
Prof. Euis Sunarti, Ketua Pegiat Keluarga Indonesia (Giga Indonesia)






