KHOTBAH

Pengaruh Pemimpin

KH. Imam Nur Suharno, S.Pd., S.Pd.I, M.Pd.I.
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Tiada kata yang pantas terucap dari lisan selain ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala limpahan rahmat, hidayah, serta nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang setia menjalankan ajarannya.

Di awal khutbah ini khotib mengingatkan kepada para jama’ah pada umumnya, dan untuk diri khotib sendiri khususnya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Karena takwa sebagai sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap Allah Swt.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Pemimpin itu ibarat hati dalam tubuh. Artinya, kebaikan dan keburukan seorang pemimpin itu akan berpengaruhi terhadap kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Jika hati (pemimpin) baik, maka baiklah anggota badan yang lain (masyarakat). Jika hati (pemimpin) rusak, maka rusak pula yang lainnya (masyarakatnya).

Dari An Nu’man bin Basyir ra, Nabi Saw bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Ibnul Qoyyim dalam mukadimah kitabnya “Ighatsatul Lahfan Min Masha’id Asy-Syaihtan”, mengatakan, “Karena hati bagi segenap anggota tubuh laksana raja (pemimpin) yang mengatur bala tentaranya. Semua perbuatan berasal darinya dan atas perintahnya. Dia bebas menggunakannya sesuai keinginannya, sehingga semuanya berada di bawah kekuasaan dan perintahnya. Dialah yang menyebabkan keistikamahan dan kesesatan. Kekuatan kayakinan dan kelemahan tekad akan mengikutinya.

Dalam konteks kepemimpinan, hadis di atas menegaskan bahwa kebaikan (kesalehan) dan keburukan seorang pemimpin akan memberikan pengaruh (dampak) dalam kehidupan masyarakat yang dipimpinnya, bahkan berpengaruh pula terhadap kehidupan makhluk hidup lainnya, selain manusia.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Hasan Al-Qashab menyebutkan, kesalehan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang pemimpin telah memancarkan rahmat, tidak hanya kepada rakyatnya melainkan juga kepada binatang.

Diriwayatkan selama kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, serigala dan domba dapat hidup berdampingan dalam satu padang penggembalaan. Ketika ditanya bagaimana mungkin serigala itu tidak menyerang domba, sang penggembala menjawab, “Bila kepala baik, maka seluruh badan juga akan baik.”

Pun, kehancuran dan kegagalan suatu bangsa juga dipengaruhi oleh pemimpinnya, termasuk dipengaruhi oleh orang yang memiliki pengaruh, dan orang kaya di negeri tersebut. Maka, waspadalah, dan waspadalah!

Dalam hal ini Al-Qur’an menegaskan,

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra [17]: 16).

1 2Laman berikutnya
Back to top button