Pengkhianatan Cinta
Islam Agama Hakiki
Islam tidak melarang rasa cinta antara laki-laki dan perempuan, namun menyediakan wadah suci berupa pernikahan. Dalam Al-Qur’an Surah ar-Rum ayat 21, Allah Ta’ala menyebutkan tiga elemen kunci dalam hubungan cinta.
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah, inna fī żālika la’āyātil liqaumin yatafakkurūn.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
Elemen pertama adalah sakinah atau ketenangan jiwa, sedangkan kedua adalah mawaddah atau kasih sayang lahiriah. Elemen ketiga adalah warahmah yang berupa kasih sayang mendalam dan pengampunan yang tetap ada meskipun rupa telah berubah.
Islam mengajarkan bahwa kecintaan berlebih kepada manusia hingga melupakan Tuhan merupakan sebuah fitnah. Muslim harus menjaga keseimbangan agar cinta kepada makhluk tidak menghambat kepatuhan kepada Sang Pencipta.
Seseorang yang benar-benar mencintai akan menjaga kehormatan pasangannya dengan tidak mengajak pada kemaksiatan. Cinta yang tulus terwujud dalam doa-doa di sepertiga malam untuk kebaikan orang yang dicintai di dunia dan akhirat.
Mencintai seseorang berarti peduli pada keselamatan imannya sehingga saling menasihati menjadi bagian dari cinta itu sendiri. Kehidupan cinta Rasulullah SAW merupakan teladan yang menyeimbangkan kemanusiaan yang lembut dengan prinsip ketuhanan.
Beliau membuktikan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, melainkan tentang perilaku dan kemuliaan akhlak. Rasulullah menjalani masa muda hingga usia 50 tahun hanya dengan satu istri, yaitu Sayyidah Khadijah.
Beliau sangat menghormati Khadijah karena dialah orang pertama yang beriman dan mengorbankan segalanya untuk dakwah. Bahkan setelah wafat, Rasulullah sering menyebut kebaikan Khadijah dan mengirimkan makanan kepada teman-teman almarhumah.
Hubungan Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah juga menunjukkan sisi manusiawi yang sangat manis dan jauh dari kesan kaku. Beliau memanggil Aisyah dengan sebutan Ya Humaira dan sengaja minum di bekas tempat bibir istrinya pada gelas yang sama.
Rasulullah adalah suami yang sangat membantu urusan rumah tangga dan tidak menempatkan dirinya sebagai raja. Beliau biasa menjahit pakaiannya sendiri serta memperbaiki sandalnya dengan penuh kesabaran.
Beliau tidak pernah membalas kecemburuan istri dengan kekerasan, melainkan dengan senyuman atau nasihat lembut. Saat cinta terjadi pengkhianatan, konsep tawakal dan sabar menjadi obat utama bagi seorang hamba.






