NUIM HIDAYAT

Pentingnya Iman kepada Allah, Hari Akhir, dan Al-Qur’an

Pembalasan penuh pasti akan diberikan sesuai ikhtiar dan amal manusia.

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ۝ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ ۝

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan, kemudian dia akan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna.” (Q.S. An-Najm [53]: 39–41)

Perjalanan hidup manusia di dunia ini terus bergerak menuju tahapan perhitungan.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ ۝ فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ۝ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ۝ وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا ۝ وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ ۝ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا ۝ وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا ۝ إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا ۝ إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ ۝ بَلَىٰ إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا ۝ فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ ۝ وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ ۝ وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ ۝ لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ ۝ فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۝ بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ ۝ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ ۝ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ ۝

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku!’ dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Sesungguhnya dahulu dia bergembira di tengah keluarganya, sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhan). Tidak demikian! Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya. Maka Aku bersumpah demi cahaya merah di waktu senja, dan demi malam serta apa yang dihimpunnya, dan demi bulan apabila menjadi purnama, sungguh, kamu akan melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Maka mengapa mereka tidak beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud. Bahkan orang-orang kafir itu mendustakan. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Maka sampaikanlah kepada mereka kabar tentang azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (Q.S. Al-Insyiqaq [84]: 6–25)

Sifat keadilan-Nya di akhirat kelak berdiri mutlak di atas seluruh makhluk.

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَن نَّفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Pada hari ketika setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri, dan setiap jiwa diberi balasan secara penuh atas apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (Q.S. An-Nahl [16]: 111)

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Q.S. Ghafir [40]: 17)

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir tidak akan melakukan tindakan biadab sebagaimana yang dipertontonkan oleh para pemimpin Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Apabila kita merenungkan Tragedi WTC 2001, akar masalah bukan pada aksi mujahidin. Kesalahan awal berada pada kebijakan AS, Inggris, dan Israel yang memaksakan berdirinya negara zionis pada 1948.

Pendirian Israel diwarnai pembantaian ribuan warga Palestina dan pengusiran jutaan umat Islam. Sejak saat itu, perampokan tanah dan pembantaian terus berlanjut. Israel sengaja ditancapkan sebagai “duri dalam daging” agar dunia Islam tak bersatu. Kaum kafir telah merasakan lebih dari seribu tahun kejayaan Khilafah Islamiah memegang kepemimpinan dunia. Hati mereka penuh kedengkian dan berambisi menguasai dunia meski harus mengorbankan jutaan nyawa.

Atas dasar itulah para mujahidin merancang serangan terhadap WTC dan Pentagon agar AS menghentikan bantuan politik serta senjatanya ke Israel. Korban tewas saat itu mencapai sekitar 3.000 jiwa.

Namun, AS tidak pernah menyadari bahaya politik luar negerinya. Presiden George W. Bush bertindak kalap dengan menyerang Irak yang mengakibatkan lebih dari 500.000 jiwa tewas, serta membantai lebih dari 100.000 jiwa di Afganistan.

Bush membantai ratusan ribu umat Islam sekaligus menggalang oposisi global melawan “Islam radikal”. Ia berupaya membentuk opini bahwa Islam identik dengan kekerasan, sedangkan Yahudi-Nasrani identik dengan perdamaian. Ia membelah Islam menjadi radikal dan moderat, lalu mengadu domba keduanya. Pemimpin dunia Islam dirayu untuk ikut memusuhi gerakan radikal tersebut.

Padahal, resistensi keras tersebut lahir akibat kebiadaban pimpinan Yahudi, AS, dan Inggris yang memaksakan pendirian Israel. Bagi mujahidin Afganistan yang puluhan tahun melawan rezim ateis Soviet, prinsip mereka tegas: senjata harus dilawan dengan senjata.

Prinsip jihad bersenjata ini juga diusung pejuang Hamas di Palestina. Melihat tanah mereka dirampas dan penduduk ditindas setiap hari, tidak ada pilihan lain bagi Muslim Palestina kecuali mengangkat senjata. Perjuangan tersebut telah berlangsung sejak 1948, bukan baru dimulai pada 7 Oktober 2023.

Israel adalah bangsa yang biadab sebagaimana sekutunya, AS. Mereka menahan lebih dari 10.000 warga Palestina, menyiksa, dan memperkosa tahanan dengan metode keji layaknya adegan di film aksi.

Maka, tidak mengherankan jika AS dan Israel mencap Hamas sebagai kelompok radikal atau teroris. Narasi propaganda ini cukup berhasil memengaruhi banyak pemimpin dunia, termasuk di Indonesia. Hingga kini, Presiden Prabowo belum membuka perwakilan resmi Hamas di tanah air dan belum memutuskan hubungan dagang dengan Israel. Ia tampak masih kagum pada kemajuan teknologi dan sistem politik Israel.

Jika kita meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Allah Swt., di dalamnya tertera hukum kisas. Pembunuh tanpa alasan yang benar harus dihukum mati, dan perampok tanah harus dilawan dengan senjata. Tanpa perlawanan fisik, tanah Palestina akan habis dicaplok rezim zionis yang mengidamkan proyek “Israel Raya”. Hamas dengan semangat jihad-nya berani berdiri melawan penindasan tersebut meski nyawa taruhannya.

Semangat jihad ini pula yang memotivasi pimpinan dan rakyat Iran untuk melawan agresi biadab AS dan Israel. Kedua negara tersebut ingin mengganti kepemimpinan Iran dengan rezim boneka agar posisi Israel aman. Mereka tahu hanya Iran yang berani menyuplai senjata ke Hamas, sementara negara-negara Arab lainnya ketakutan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button