Pentingnya Iman kepada Takdir
Sikap permusuhan Ahli Kitab yang dengki dipaparkan secara lugas dalam Al-Qur’an.
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan mereka akan terus memerangi kamu sampai mereka mengembalikan kamu dari agamamu, jika mereka sanggup. Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 217)
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama (millah/gaya hidup) mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya.’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 120)
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir setelah kamu beriman, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 109)
Kedengkian tersebut berasal dari penyakit hati, sebagaimana kisah Habil dan Qabil, serta sifat Iblis yang menuntut pengultusan.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidaklah pantas bagi seseorang yang telah diberi Allah Kitab, hikmah, dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,’ tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kamu orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Kitab dan karena kamu tetap mempelajarinya.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 79)
Peradaban Barat saat ini berada dalam fase kejatuhan nilai moral akibat ketiadaan pegangan kitab suci yang autentik.
Takdir kelahiran membentuk keragaman fisik dan lokasi hidup manusia di bumi. Setiap Muslim dituntut bersyukur dan menatap takdir dengan keikhlasan.
Rasulullah saw. mengajarkan untuk senantiasa melihat ke bawah dalam urusan duniawi:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Janji tambahan nikmat bagi yang bersyukur tertera dalam firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.’” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (Q.S. Ibrahim [14]: 34)
Jodoh juga merupakan bagian dari ketetapan takdir dari Allah Swt. Islam melarang pergaulan bebas (khalwat) untuk memelihara kehormatan diri.






