Penyesalan Seorang Zahid di Ambang Kematian
Semangat berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan memang mendapat penekanan kuat dalam ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi Muhammad mengajak umatnya untuk menyebarkan salam, memberi makan, menyambung silaturahmi, dan melaksanakan salat malam. Amal-amal sederhana itu, menurut Nabi, menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.
Al-Qur’an juga menggambarkan kebajikan serupa dalam Surah Al-Insan. Di sana disebutkan orang-orang saleh yang memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Tindakan berbagi dalam kondisi sulit dianggap sebagai salah satu tanda keikhlasan yang paling tinggi.
Jubah yang Lama
Kalimat terakhir yang keluar dari bibir sahabat itu adalah, “Mengapa tidak yang baru?”
Dalam kisah yang diceritakan para penceramah, peristiwa yang dimaksud berkaitan dengan sepotong pakaian. Suatu pagi sahabat tersebut berjalan menuju masjid dengan mengenakan dua lapis pakaian. Jubah luar yang ia kenakan sudah agak lama, sementara pakaian di bagian dalam masih lebih baru.
Di tengah perjalanan ia bertemu seseorang yang menggigil kedinginan. Tanpa ragu ia melepaskan jubah luarnya dan memberikannya kepada orang tersebut. Perbuatan itu tampak sederhana, tetapi menunjukkan kepedulian yang nyata kepada sesama.
Namun ketika pahala amal itu diperlihatkan kepadanya menjelang wafat, sahabat itu kembali menyesal. “Mengapa tidak yang baru?” katanya. Ia merasa seharusnya memberikan pakaian yang lebih baik, bukan yang lama.
Penyesalan semacam ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sampai mereka menafkahkan sebagian dari apa yang paling mereka cintai. Ayat dalam Surah Ali Imran itu bahkan melahirkan kisah nyata di kalangan sahabat.
Ketika ayat tersebut turun, Abu Thalhah—seorang sahabat kaya di Madinah—menyedekahkan kebun terbaiknya yang bernama Bairuha. Kebun itu sangat ia cintai dan sering didatangi Nabi Muhammad. Namun justru karena itulah Abu Thalhah memilih menjadikannya sedekah.
Antara Kisah Hikmah dan Riwayat Hadis
Meski kisah tentang sahabat yang mengucapkan tiga kalimat penyesalan itu populer dalam ceramah keagamaan, para peneliti hadis mencatat bahwa cerita tersebut tidak ditemukan secara utuh dalam kitab-kitab hadis sahih dengan sanad yang jelas. Kisah itu lebih sering muncul dalam literatur tazkirah atau kisah-kisah zuhud yang bertujuan memberikan pelajaran moral.
Namun demikian, inti pesan yang terkandung di dalamnya tidak bertentangan dengan sumber-sumber utama Islam. Justru sebaliknya, setiap bagian cerita memiliki akar yang kuat dalam hadis dan Al-Qur’an: pahala langkah menuju masjid, keutamaan memberi makan orang miskin, serta anjuran untuk memberikan harta yang terbaik dalam sedekah.
Karena itu banyak ulama memandang kisah tersebut sebagai bentuk hikmah naratif—cerita yang dirangkai dari berbagai ajaran Nabi untuk memudahkan orang memahami nilai-nilai moral yang diajarkan agama.
Kerendahan Hati Generasi Sahabat
Di balik perdebatan tentang sumber riwayatnya, kisah ini menyimpan satu pesan penting tentang karakter generasi sahabat. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad dan paling awal menerima ajaran Islam. Namun justru mereka pula yang sering merasa amalnya belum cukup.






