#Gencatan SenjataLAPSUS

Pertemuan Langsung Kushner-Hamas, Tamparan Diplomatik untuk Netanyahu?

Shadid menekankan bahwa dinamika ini bertolak belakang dengan salah satu tujuan utama perang Israel, yakni pemusnahan Hamas secara militer maupun politik.

Sementara itu, Ahmed Atawna, Direktur Vision Center for Political Development yang berbasis di Istanbul, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa faksi-faksi Palestina saat ini memegang posisi tawar negosiasi yang kuat bersama para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki.

“Dapat dikatakan bahwa saat ini pihak Palestina dan faksi perlawanan berada dalam posisi tawar yang baik,” tutur Atawna.

Apa Agenda Pertemuan Kushner dan Netanyahu?

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa para pejabat AS makin frustrasi karena Israel dianggap terus mengulur waktu, mengajukan keberatan baru, dan mengubah urutan tahapan yang diatur dalam peta jalan.

Mengutip sumber-sumber yang memahami diskusi tersebut, surat kabar itu melaporkan bahwa Washington merasa Israel sedang “bermain-main”.

Menurut harian tersebut, mandat Kushner dalam pertemuannya dengan Netanyahu bukan untuk membuka kembali negosiasi. Salah satu sumber menyatakan bahwa Kushner datang bukan untuk putaran pingpong diplomatik lainnya, melainkan untuk menyelesaikannya.

Pemerintah AS diperkirakan akan mendesak Netanyahu untuk menghentikan serangan di Gaza, menarik pasukan ke Yellow Line, meningkatkan bantuan kemanusiaan secara signifikan, serta memfasilitasi mekanisme pemerintahan sipil dan rekonstruksi.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Trump?

Menurut sejumlah analis, Trump makin berambisi mencapai terobosan di Gaza di tengah berbagai hambatan kebijakan luar negeri lainnya.

“Isu Iran tidak berjalan sesuai keinginannya, dan upayanya untuk memisahkan berkas Lebanon dari nota kesepahaman juga tidak berhasil,” kata Zweiri kepada Al Jazeera. “Satu-satunya isu tempat ia dapat membuat terobosan dan mencatatnya sebagai kemenangan kebijakan luar negeri saat ini hanyalah isu Gaza.”

Delapan negara Arab dan Muslim—termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, Yordania, Indonesia, Pakistan, dan Turki—mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam penolakan Israel terhadap peta jalan tersebut. Mereka menuduh Israel menghambat upaya untuk mengakhiri perang di Gaza.

Negara-negara tersebut memperingatkan bahwa penolakan terhadap kerangka kerja itu merupakan bentuk pembangkangan eksplisit untuk melanjutkan Rencana Komprehensif. Hal ini dinilai mengancam keberlangsungan upaya luas yang telah dilakukan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button