OPINI

Politik Luar Negeri Indonesia Pasca Penangkapan Presiden Venezuela

Kedaulatan sebagai Harga Mati

Bung Karno adalah pemimpin yang sangat sensitif terhadap isu kedaulatan. Baginya, kedaulatan adalah kehormatan bangsa. Dalam pidato-pidatonya, ia berkali-kali menegaskan: “Sekali kita menyerah pada intervensi asing, maka saat itu pula harga diri bangsa mulai runtuh.”

Karena itu, Indonesia tidak boleh membenarkan praktik penangkapan kepala negara asing secara sepihak, apa pun alasannya. Jika preseden ini dibiarkan, maka dunia akan bergerak menuju hukum rimba, di mana yang kuat menentukan benar dan salah.

Al-Qur’an telah mengingatkan bahaya kezaliman kekuasaan:

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا

“Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim…” (QS. Al-Kahfi: 59)

Sejarah dunia, sebagaimana sejarah bangsa-bangsa yang runtuh, selalu menunjukkan bahwa kezaliman kekuasaan tidak pernah berumur panjang.

Bung Karno tidak pernah bercita-cita menjadikan Indonesia negara adidaya secara militer. Yang ia inginkan adalah Indonesia menjadi mercusuar moral dunia. Negara yang berani bersuara ketika keadilan diinjak-injak, meski tidak memiliki kekuatan senjata terbesar.

Itulah sebabnya Bung Karno menggagas Konferensi Asia Afrika, bukan untuk melawan Barat atau Timur, tetapi untuk mengangkat martabat bangsa-bangsa yang selama ini dibungkam.

Al-Qur’an telah mengajarkan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90)

Perintah ini bersifat universal, berlaku di rumah tangga, di masyarakat, hingga dalam hubungan antarnegara.

Dalam menghadapi konflik global seperti kasus Venezuela, Indonesia tidak boleh kehilangan kompas sejarahnya.

Politik luar negeri Indonesia harus tetap setia pada ajaran Bung Karno, semangat Konferensi Asia Afrika, dan nilai-nilai keadilan universal yang juga diajarkan Al-Qur’an.

Selama Indonesia berpijak pada keadilan, kedaulatan, dan kemanusiaan, Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa kecil, meski tidak menjadi negara adidaya.

Itulah warisan Bung Karno.
Itulah jalan non-blok yang bermartabat.[]

Bogor, Selasa 6 Januari 2026, 4:54 WIB

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button