Prabowo dan Soekarno Pemuja Nasionalisme (Sekuler)
Dalam berbagai tulisan dan pidatonya, Agus Salim mengkritik nasionalisme Barat yang mengajarkan bahwa negara harus dibela meskipun berbuat salah. Menurutnya, kebenaran dan keadilan harus selalu berada di atas kepentingan suatu bangsa.
Tokoh besar Islam ini menilai bahwa umat manusia tidak boleh dibatasi hanya oleh ikatan kebangsaan semata. Islam senantiasa mengajarkan persaudaraan yang melampaui batas suku, ras, dan negara.
Menghadapi kritik dari Agus Salim saat itu, Soekarno kemudian meluncurkan konsep “nasionalisme yang berperikemanusiaan” atau “sosio-nasionalisme”.
Menurut Soekarno, nasionalisme Indonesia tidak boleh meniru nasionalisme Eropa yang sempit dan agresif, tetapi harus menghormati kemanusiaan universal.
Jadi, menurut Agus Salim, nasionalisme boleh menjadi alat perjuangan dan pemersatu bangsa, tetapi jangan sampai dijadikan keyakinan tertinggi yang mengalahkan agama, keadilan, dan kemanusiaan universal.
Polemik pemikiran antara Soekarno dan Haji Agus Salim terjadi terutama pada akhir dekade 1920-an.
Agus Salim menulis artikel berjudul “Persatuan Islam” dan “Cinta Bangsa dan Tanah Air” sebagai tanggapan terhadap gagasan nasionalisme yang berkembang di kalangan pergerakan nasional.
Salah satu bagian yang sering dikutip dari esai Soekarno berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” berbunyi, “Rasa kebangsaan itu adalah suatu rasa cinta kepada tanah air; rasa cinta kepada negeri tempat kita dilahirkan, tempat kita dibesarkan, tempat kita hidup.”
Soekarno menggambarkan Indonesia sebagai “Ibu Pertiwi yang kaya raya, amat cantik rupanya, sangat banyak sumber daya alamnya”, lalu mengajak rakyat untuk mencintai dan mengabdikan diri kepada negara.
Agus Salim pun mengkritik pemikiran Soekarno tersebut. Ia mempertanyakan secara substansi, “Jika tanah air dicintai karena tempat lahir, tempat hidup, atau karena keindahan dan kesuburannya, maka bagaimana jika tanah itu tidak indah, tidak subur, atau tidak memberi kenikmatan; apakah cintanya akan hilang?”
Karena itu, Agus Salim menegaskan bahwa cinta tanah air harus didasarkan pada nilai yang lebih tinggi, yaitu kebenaran, keadilan, dan pengabdian kepada Allah Swt., bukan sekadar ikatan emosional terhadap wilayah geografis.
Kaum nasionalis sekuler memang sering mempropagandakan ideologi nasionalisme dalam gerak politiknya.
Nasionalisme sering kali dijadikan kedok untuk menutupi tingkah laku menyimpang mereka, seperti korupsi, bermewah-mewahan, atau menumpuk kekayaan untuk pribadi maupun kelompoknya.
Agus Salim dan para tokoh Islam sesungguhnya tidak menentang nasionalisme. Mereka sepenuhnya setuju dengan eksistensi nasionalisme.
Akan tetapi, nasionalisme tersebut harus didasarkan pada nilai-nilai Islam, kemanusiaan universal, dan nilai-nilai yang mengagungkan kebesaran Tuhan (Allah Swt.). Hal tersebut ditekankan karena nasionalisme sejatinya tidak memiliki nilai bawaan.





