‘Religiosity Flexing’ di Medsos: Bersyukur atau Pamer?
Namun, dampaknya adalah lahirnya hierarki kesalehan berbasis finansial. Ketika kesalehan diidentikkan dengan pakaian bermerek syar’i yang mahal atau perjalanan spiritual kelas satu, muncul persepsi bahwa “menjadi saleh itu mahal.”
Hal ini merusak prinsip fundamental agama yang menekankan kesetaraan. Orang-orang yang taat namun sederhana secara finansial merasa teralienasi karena mereka tidak mampu “memamerkan” kesalehan mereka dengan cara yang mewah.
Jika tren ini terus dinormalisasi, dikhawatirkan terjadi “pendangkalan iman” di kalangan masyarakat digital. Ibadah dilakukan hanya sebagai syarat untuk mendapatkan foto yang bagus demi konten. Ibadah berubah menjadi performa, bukan lagi transformasi karakter.
Untuk mengatasi ini, diperlukan “Digital Hygiene” atau kebersihan mental digital dalam beragama. Kita harus berani menerapkan etika pribadi, seperti menunda unggahan (post-later) ibadah agar kekhusyukan tetap terjaga saat ritual berlangsung. Media sosial memang alat dakwah yang efektif, namun ia harus dikelola dengan filter kejujuran niat yang ketat.
Konsep Digital Hygiene dalam beragama bukan berarti pelarangan total terhadap penggunaan media sosial dalam berdakwah. Sebaliknya, ini adalah tentang “puasa digital” secara fungsional untuk menjaga kualitas batin.
Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menetapkan aturan internal untuk tidak mendokumentasikan setiap unit ibadah. Sebagai contoh, jika seseorang sedang menjalankan ibadah haji atau umrah, ia dapat memilih waktu-waktu tertentu untuk mematikan perangkat elektroniknya secara total. Hal ini krusial untuk mengembalikan makna “suci” yang berarti terpisah dari urusan duniawi, termasuk urusan statistik pengikut (followers).
Transformasi karakter yang seharusnya menjadi hasil akhir dari ibadah (menjadi lebih empati, jujur, dan rendah hati) digantikan oleh “performa karakter.” Seseorang bisa tampak sangat saleh melalui foto-foto yang diproduksi secara profesional, namun di dunia nyata tidak mencerminkan perilaku yang sama.
Perbedaan antara citra digital dan realitas sosial ini dapat memicu krisis kepercayaan publik terhadap institusi agama itu sendiri. Masyarakat akan mulai meragukan apakah ketulusan itu masih ada, ataukah segala bentuk kebaikan hanyalah bagian dari skenario pemasaran diri.
Penyebaran narasi agama di media sosial harus dikembalikan pada substansi, bukan pada figur. Konten yang menginspirasi adalah konten yang membuat orang lain mengingat Tuhan, bukan yang membuat orang lain merasa iri atau minder karena tidak mampu mencapai kemewahan spiritual yang dipamerkan oleh si pengunggah. Di sinilah letak ujian berat bagi generasi muslim digital: apakah mereka mampu menjadi “lampu” yang menerangi sekelilingnya, atau hanya ingin menjadi “bintang” yang memamerkan cahayanya sendiri?
Media Sosial Ujian Baru bagi Keimanan
Ia menguji kejujuran hati di tengah kemudahan pamer yang tak terbatas. Dengan menjaga Digital Hygiene dan terus melakukan introspeksi diri, kita bisa memastikan bahwa jempol kita tidak menghancurkan apa yang sedang dibangun oleh dahi kita di atas sajadah. Mari kita kembalikan kemegahan agama pada kedalaman makna dan perbaikan karakter, bukan pada kemilau feed yang penuh kepalsuan.
Pihak yang melakukan flexing sering kali berdalih dengan narasi “tahadduts bin ni’mah” atau menampakkan nikmat sebagai bentuk syukur. Namun, terdapat perbedaan antara bersyukur dan pamer. Bersyukur berorientasi pada pemberi nikmat (Tuhan), yang manifestasinya adalah kerendahan hati dan peningkatan manfaat bagi sesama. Sedangkan pamer berorientasi pada diri sendiri dan orang lain dengan manifestasi berupa perasaan superioritas.
Ketika syukur diekspresikan lewat konten mewah tanpa empati sosial, ia kehilangan ruhnya. Syukur yang dipamerkan di depan mereka yang kekurangan tanpa ada upaya nyata untuk membantu bukan lagi bentuk ibadah, melainkan bentuk arogansi yang dibungkus dengan bahasa agama. Ini menciptakan standar kesalehan yang tidak realistis dan sering kali menekan mental umat lain yang sedang berjuang secara ekonomi.[]
*Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.





