OPINI

Rogue President, Kegagalan Amerika di Iran

Kegagalan sesungguhnya, tegas Reich, adalah bahwa negara terkaya dan paling kuat di dunia—yang memimpin dunia sejak Perang Dunia Kedua dan membangun tatanan internasional pascaperang yang menekankan multilateralisme, demokrasi, HAM, dan supremasi hukum—kini dipimpin oleh seorang presiden nakal yang menolak semua nilai-nilai ini.

Namun kegagalan Trump sebenarnya tidak berhenti di sana. Nick Paton Walsh, analis CNN, menunjukkan bagaimana Trump kini terperangkap dalam jebakan tertua perang modern, yakni karena meyakini bahwa operasi militer yang cepat dan surgical (‘sangat presisi’) akan menghasilkan hasil politik yang cepat dan abadi (CNN, 13 Maret 2026).

Walsh berpandangan bahwa Uni Soviet berperang di Afganistan; AS di Irak tahun 2003; Putin melakukannya di Ukraina, dan masih berperang. Apa pun kekuatan yang diterapkan militer dalam perang, maka jika rakyat yang diserang tentu mereka akan terbangkitkan komitmennya untuk mempertahankan tanah dan rumah mereka semaksimal mungkin.

Trump mendeklarasikan kemenangan setelah 12 hari—sesuatu yang belum ia peroleh atau diterima lawannya. Trump kini menghadapi tugas mustahil untuk mendamaikan kebutuhan tak terelakkannya untuk tampil sebagai pemenang dengan keinginan keras Iran untuk tidak pernah terlihat berhenti. Sementara Iran hanya perlu bertahan hidup, Trump terjebak dalam retorika kemenangan yang hampa.

Lebih rumit lagi, kematian Ali Khamenei pada 28 Februari justru menciptakan masalah baru. Alih-alih menciptakan kekosongan kekuasaan, kaum garis keras Iran mengisi kekosongan itu dengan putra Khamenei, Mojtaba, orang yang secara terbuka tidak disukai Trump (Walsh, 2026). IRGC kini memburu balas dendam darah atas pembunuhan beruntun para komandannya, sebagaimana yang mungkin dilakukan militer AS jika Trump, para jenderal, dan komunitas intelijen mereka dibunuh.

Iran akan terus kehilangan peluncur, pangkalan drone, personel, dan infrastruktur, tetapi cukup banyak yang akan bertahan sehingga pasukan mereka tidak pernah harus berhenti dan berlutut. Para pemimpin IRGC telah mempersiapkan momen ini selama bertahun-tahun. Ini adalah panggilan mereka. Mereka mungkin kehabisan bom, drone, atau bahkan orang, tetapi tidak motivasi. Ini sebenarnya pelajaran berharga yang harus dipelajari AS dari Irak dan Afganistan.

Sampai di titik ini, kegagalan Amerika tampak mulai terang benderang: secara konstitusional, moral, dan politis. Trump mungkin mendeklarasikan kemenangan, tetapi sejarah akan mencatat bahwa perang ini justru memperkuat musuh yang ingin dihancurkannya.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button