NUIM HIDAYAT

Rusaknya Politik Ketika Tasawuf Dihilangkan

Kehidupan politik kita kian menyesakkan. Pengakuan baru-baru ini artis Krisdayanti bahwa penghasilan anggota DPR miliaran tiap tahun membuat banyak orang terkejut. Artis ini juga mengaku ia menghabiskan tiga miliar dalam kampanye untuk menjadi anggota DPR.

Memang dalam alam demokrasi liberal yang diterapkan di tanah air, uang menjadi faktor utama menggaet konstituen. Masyarakat kita yang kebanyakan belum terpelajar, kebanyakan tergoda dengan uang. Terutama masyarakat pedesaan. Kalau sudah dikasih uang biasanya mereka sungkan untuk tidak memilihnya.

Selain uang, senjata yang lain digunakan adalah poster atau spanduk. Polesan wajah agar ayu atau nggantheng menjadi senjata utama, meski dengan sedikit prestasi. Prestasi yang sedikit itu disebar-sebar dan kelemahan atau dosa sang calon ditutup dengan sangat rapat.

Maka jangan heran dalam pemilu di tanah air, partai-partai yang berkelimpahan dengan uang yang memenangkan pemilu. Mereka faham cara membujuk pemilih dan cara serta seluk untuk menjadi petinggi di negeri ini.

Inilah kerusakan demokrasi liberal yang diadopsi mentah-mentah dari Barat. Barat (dan Komunisme) yang bertahan materialisme memang ‘menghalalkan segala cara’ untuk meraih kekuasaan. Cara-cara itu dibuat agar tampak konstitusional, padahal sebenarnya banyak tipuan.

Ilmu politik Barat tidak ada tasawufnya. Politik Barat intinya who get what. Siapa mendapatkan apa. Tidak ada unsur keikhlasan di dalamnya. Tidak ada kaitan politik dengan pendekatan diri pada Yang Maha Pencipta, Allah SWT. Tidak ada kaitan kekuasaan dunia dengan kebahagiaan akhirat.

Ilmu yang diterjemahkan kemudian dalam sistem politik (politik ekonomi, politik pendidikan, politik budaya dll), akhirnya melahirkan manusia-manusia yang berorientasi kebendaan semata. Tidak peduli dengan akhirat. Maka jangan heran misalnya Megawati Ketum PDIP pernah pidato berterus terang meragukan akhirat.

Ketika sebuah individu, partai atau negara meragukan akhirat, maka inilah awal kerusakan. Yang terjadi adalah perlombaan kemewahan. Perlombaan jabatan dan perlombaan kekuasaan. Mereka menganggap bahwa kekuasaan adalah kenikmatan tertinggi. Bagaimana harus diraih, meski dengan kebohongan dan tipu daya.

Politik demokrasi liberal adalah politik gincu. Politik yang mementingkan imej. Yang penting manis ketika berhadapan dengan rakyat. Ketika bersembunyi banyak hal-hal busuk yang dilakukannya. Yang penting poster dan kamera mengungkap sisi baiknya dan menyembunyikan sisi busuknya.

Bagaimana dalam Tasawuf Islam? Ilmu tasawuf mengajarkan kita jujur. Baik yang nampak maupun yang tersembunyi sama. Bahkan ahli tasawuf ada yang menyembunyikan kebaikannya, agar hanya Allah yang mengetahuinya. Kebaikan yang ditampakkan ya jauh lebih sedikit daripada yang disembunyikannya.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button