IBRAH

Sahabiyah: Pelajaran untuk Ibu dalam Menjaga Generasi

Menjadi seorang istri atau ibu merupakan amanah mulia yang Allah Swt titipkan buat para Muslimah. Begitu juga rumah yang ditempatinya, menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Karena rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat lahirnya generasi pembangun peradaban mulia (Islam).

Ingatlah, apa yang dilakukan seorang ibu di rumah, baik ucapan, sikap, maupun kebiasaan akan membekas dalam diri anak dan bisa berdampak hingga sepanjang hidupnya. Karena itulah, ada perbuatan yang mungkin terlihat ringan, namun dosanya bisa mengalir panjang jika tidak disadari dan diperbaiki.

Ada perbuatan yang tampak sepele di rumah, tapi dosanya bisa mengalir panjang jika melahirkan kerusakan pada anak dan keluarga. Namun Islam juga memberi teladan indah bagi para Ibu melalui para sahabiyah.

Adapun perbuatan tersebut yakni: Pertama, lalai menanamkan iman dan akhlak. Kesibukan rumah sering membuat perhatian tertuju pada kebutuhan dunia anak, sementara iman dan akhlak terabaikan. Jika anak tumbuh tanpa tauhid dan adab, dampaknya bisa berlanjut sepanjang hidupnya. Apalagi dalam Al-Qur’an, Allah Swt memperingatkan kepada orang beriman agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka.“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS at-Tahrim: 6).

Agar para Ibu tidak lalai menanamkan iman dan akhlak, kita bisa melihat teladan Sahabiyah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ummu Sulaim menanamkan iman sejak dini kepada putranya, Anas bin Malik. Bahkan sebelum menikah dengan Abu Thalhah, ia menjadikan keislaman sebagai syarat utama. Dari didikan seorang ibu beriman, lahirlah Anas bin Malik, sahabat Nabi dan perawi ribuan hadits. Oleh karena itu, menanam iman sejak dini adalah investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.

Kedua, membiarkan kemaksiatan di dalam rumah. Gawai tanpa batas, tontonan tak terkontrol, dan ucapan yang tidak dijaga sering dianggap biasa, padahal ini membentuk karakter anak. Rasulullah saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban” (HR Bukhari dan Muslim).

Agar kemaksiatan tidak terjadi, maka teladan Sahabiyah: Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha bisa menjadi teladan para Ibu. Asma’ dikenal sebagai ibu yang tegas dalam iman dan adab. Ia mendidik putranya, Abdullah bin Zubair, dengan keberanian, kejujuran, dan keteguhan prinsip, meski hidup dalam kondisi sulit. Maka, ketegasan dalam kebenaran adalah bentuk kasih sayang, bukan kekerasan.

Ketiga, kurang menghormati suami dalam perkara ma’ruf. Sikap meremehkan suami atau sering mengeluh di depan anak akan ditiru dan merusak keharmonisan rumah. Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang istri meninggal dunia dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga” (HR Tirmidzi).

Para Ibu bisa melihat teladan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Khadijah adalah istri yang menenangkan Rasulullah saw, mendukung dakwah beliau sepenuh hati, dan menjadi tempat bernaung saat beliau diuji. Keteladanannya membuat rumah Nabi dipenuhi ketenangan dan keberkahan. Maka, menghormati dan mendukung suami adalah jalan besar menuju ridha Allah.

Keempat, menjadi teladan buruk bagi anak. Anak meniru lebih cepat daripada mendengar nasihat. Jika ibu mudah marah, menggunjing, atau meremehkan agama, anak akan melakukan hal yang sama. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa memberi contoh buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (HR Muslim).

Agar para Ibu tidak memberikan contoh yang buruk bagi anak-anaknya, teladan putri Rasulullah saw, Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha dapat menjadi rujukan. Fatimah hidup sederhana, menjaga adab, kesabaran, dan ketakwaan meski menghadapi banyak kesulitan. Dari keteladanan beliau, lahirlah Hasan dan Husain, pemuda penghulu surga. Oleh karena itu, kesalehan ibu adalah warisan paling berharga bagi anak.

Ingat! Rumah bisa menjadi sumber dosa yang panjang atau ladang pahala yang terus mengalir. Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Para sahabiyah telah menunjukkan, dari rumah sederhana, lahir generasi luar biasa karena iman, keteladanan, dan keikhlasan seorang ibu. Semoga Allah menjadikan kita ibu-ibu yang menghadirkan rahmat, iman, dan keberkahan bagi keluarga dan generasi setelah kita. Aamiin.[]

Siti Aisyah, S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

BACA JUGA
Close
Back to top button