OASE

Semua Milik Allah: Dari Aldi Taher hingga Burger Bangor

Belakangan ini, publik kembali dihibur sekaligus dibuat heran oleh tingkah Aldi Taher. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap melontarkan pernyataan yang terkesan sederhana, bahkan nyeleneh: “semua milik Allah.”

Tidak peduli konteksnya—entah sedang membahas dirinya, orang lain, bahkan urusan bisnis seperti burger—kalimat itu terus diulang.

Sebagian orang menertawakan. Sebagian lain menganggapnya sekadar gimmick. Namun, jika direnungkan lebih dalam, kalimat tersebut justru menyentuh inti ajaran Islam yang paling mendasar: tauhid. Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah SWT melalui firmannya:

وَلِلّٰهِ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْاَرْضِ

“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284)

Ayat ini sederhana, tetapi sangat tegas. Ia menutup seluruh ruang bagi klaim kepemilikan mutlak manusia. Apa pun yang kita anggap milik kita—harta, jabatan, usaha, bahkan diri kita sendiri—pada hakikatnya hanyalah titipan. Kita diberi hak untuk mengelola, bukan memiliki secara mutlak.

Lalu mengapa ketika kalimat “semua milik Allah” keluar dari sosok yang dianggap “tidak serius”, ia justru terasa janggal?

Di sinilah kita perlu jujur melihat diri sendiri. Bisa jadi, yang terasa aneh bukanlah ucapannya, melainkan karena kita sendiri telah jauh dari kesadaran tauhid itu. Kita terbiasa mengatakan “punyaku”, “usahaku”, “bisnisku”, seolah-olah semua itu hasil murni dari kekuatan diri sendiri. Kita lupa bahwa kesehatan, kesempatan, bahkan napas yang kita hirup adalah pemberian Allah semata.

Ketika Aldi Taher mengatakan “semua milik Allah”, meski dalam gaya santai atau bahkan terkesan bercanda, sesungguhnya ia sedang mengingatkan sesuatu yang sangat serius: tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki.

Ambil contoh dalam dunia bisnis yang sedang ramai. Banyak orang berlomba membangun usaha, mengembangkan brand, dan memperluas pasar. Itu tentu bagian dari ikhtiar. Namun tanpa kesadaran tauhid, usaha tersebut mudah berubah menjadi sumber kesombongan. Ketika berhasil, merasa paling hebat. Ketika gagal, merasa dunia runtuh.

Padahal jika ayat tersebut benar-benar dihayati, sikap seorang Muslim akan berbeda. Ia akan bekerja keras, tetapi tidak sombong. Ia akan berusaha maksimal, tetapi tidak putus asa. Ia sadar bahwa apa pun hasilnya tetap berada dalam kepemilikan Allah.

Kalimat “semua milik Allah” juga seharusnya melahirkan sikap berbagi. Jika harta hanyalah titipan, maka tidak ada alasan untuk kikir. Apa yang kita keluarkan bukanlah kehilangan, melainkan pengembalian kepada pemilik sejati.

Namun realitas hari ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Media sosial memperkuat ilusi kepemilikan. Orang berlomba memamerkan apa yang dimiliki—rumah, kendaraan, usaha, bahkan pencapaian pribadi. Semua seolah-olah hasil mutlak dari kerja keras sendiri.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button