Semua Milik Allah: Dari Aldi Taher hingga Burger Bangor
Di tengah suasana seperti ini, kalimat sederhana “semua milik Allah” menjadi seperti tamparan halus. Ia mengingatkan bahwa semua yang kita banggakan bisa hilang dalam sekejap jika Allah menghendaki. Tidak ada yang benar-benar permanen.
Memang, cara penyampaiannya mungkin tidak seperti ceramah di mimbar. Tidak pula disampaikan dengan bahasa serius dan penuh dalil. Tetapi kebenaran tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan. Terkadang, ia hadir dari arah yang tidak terduga.
Pertanyaannya sekarang: apakah kita hanya akan tertawa, atau mau mengambil pelajaran? Jika kalimat itu hanya berhenti sebagai bahan candaan, maka kita kehilangan maknanya. Namun jika ia mampu menggerakkan hati—meski hanya sejenak—untuk mengingat kembali prinsip dasar tauhid, maka di situlah nilainya.
Pada akhirnya, bukan siapa yang mengatakan yang terpenting, tetapi apa yang dikatakan. Dan dalam hal ini, kalimat “semua milik Allah” adalah kebenaran yang ditegaskan langsung oleh Al-Qur’an.
Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia yang membuat manusia lupa diri, mungkin kita memang perlu diingatkan—bahkan dengan cara sederhana, bahkan dengan cara yang tidak biasa—bahwa semua yang kita miliki hari ini bukanlah milik kita.“Semua milik Allah”. []
Khaerul Umam, Mahasiswa Magister Ilmu Hadis UIN Jakarta.






