Strategi Perang Atrisi Iran
Menurut saya, kontradiksi kepentingan antara AS dan Israel mulai tampak ke permukaan dan ini akan menjadi faktor krusial ke depan. Dr. Ali Bakir dalam “Three Calculations, One War” (8 Maret 2026) menguraikan perbedaan kalkulasi di kubu lawan. Israel mungkin berkepentingan memperpanjang perang selama biaya dapat dibebankan pada AS dan negara-negara Teluk.
Tujuan tersembunyi Tel Aviv bukan sekadar melumpuhkan program nuklir Iran, tetapi menciptakan kekacauan berkepanjangan di negara berpenduduk 90 juta itu agar terlalu sibuk dengan urusan domestik untuk memproyeksikan kekuatan ke luar. Skenario kekacauan ini, menurut Bakir, akan menguntungkan Israel karena Iran yang terfragmentasi tidak akan mampu mengganggu hegemoni Israel di kawasan.
Namun skenario ini mengandung risiko besar yang mungkin tidak diperhitungkan dengan matang. Letkol (Purn) Alex Vershinin memiliki pengalaman 10 tahun di garis depan di Korea, Irak, dan Afghanistan dan pernah bekerja untuk NATO dan Angkatan Darat AS, dalam “The Attritional Art of War” (RUSI, 18 Maret 2024) menegaskan bahwa dalam perang atrisi, “kemenangan diraih oleh ekonomi, bukan tentara.” Jika negara-negara Teluk mulai menjauh karena lelah menanggung biaya perang yang terus membengkak, AS bisa kehilangan pengaruh strategis yang dibangun selama puluhan tahun.
Sebagai tambahan, menurut Marco Carnelos, mantan diplomat Italia yang pernah bertugas di Somalia, Australia dan PBB, bahwa setelah deklarasi “kemenangan total” atas Iran pada Juni 2025, AS justru kembali ke meja perundingan beberapa bulan kemudian. Pengulangan pola ini akan mengikis kredibilitas Washington di mata sekutu-sekutunya. Lebih jauh lagi, jika Iran benar-benar menggunakan rudal hipersonik yang kabarnya mulai dikerahkan, kalkulasi pertahanan udara yang sudah timpang akan semakin memburuk bagi pihak bertahan.
Menurut saya, perang atrisi Iran kelihatannya dirancang untuk menguji ketahanan, bukan kecepatan. Iran telah kehilangan pemimpin tertinggi dan sebagian aset militernya, tetapi mereka memiliki ruang geografis seluas 1,6 juta kilometer persegi, populasi besar yang telah terbiasa hidup di bawah sanksi selama 47 tahun, serta industri militer dalam negeri yang dirancang khusus untuk perang panjang.
Sebaliknya, negara-negara Teluk yang terbiasa dengan kemakmuran dan kenyamanan mendadak menghadapi kenyataan pahit bahwa kekayaan tidak bisa membeli perdamaian jika stok interceptor habis dan pabrik-pabrik pertahanan di luar negeri tidak mampu memenuhi permintaan dengan cepat.
Pada akhirnya, ada ungkapan bagus dari Carnelos yang sangat tepat menggambarkan situasi sekarang ini: “The West might have the watch, but Iran has the time.” Barat mungkin memiliki arloji, tetapi Iran memiliki waktu, kata dia. Dalam perang atrisi, waktu bukan sekadar pengukur durasi. Waktu adalah amunisi paling menentukan.
Setiap hari yang berlalu tanpa kehancuran total infrastruktur militer Iran berarti ribuan drone baru siap diluncurkan, sementara setiap hari yang sama juga menguras habis cadangan rudal pertahanan koalisi. Dan untuk saat ini, dalam permainan ketahanan semacam ini, waktu berpihak pada Tehran.[]





