#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Strategi Perang Atrisi Iran

Oleh: Dr. Yanuardi Syukur, M.Si., Dosen Antropologi Universitas Khairun.

Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tidak melumpuhkan Tehran, justru melahirkan respons tanpa kompromi.

Dalam sepekan pertama, Iran meluncurkan lebih dari seribu drone dan ratusan rudal balistik ke berbagai target di Israel, pangkalan militer AS, serta infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Inilah wujud transisi Iran dari doktrin “strategic patience” menuju perang atrisi terbuka.

Jonathan Whittall, pakar urusan kemanusiaan dan analis politik dari Afrika Selatan dalam tulisannya “The end of Iran’s strategic patience” (Al Jazeera, 6 Maret 2026) menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Iran membangun jaringan proksi sebagai instrumen pencegahan.

Namun serangan bertubi-tubi terhadap sekutunya—dari gugurnya pimpinan Hamas dan Hezbollah hingga jatuhnya pemerintahan Assad di Suriah—membuktikan bahwa pengendalian diri tidak lagi relevan. Kini Iran memilih strategi perang atrisi: menguras lawan, bukan mengalahkannya secara cepat.

Satu hal menarik dari strategi ini adalah bagaimana Iran memanfaatkan matematika ekonomi perang untuk menciptakan ketimpangan biaya yang menguntungkan pihak bertahan. Inzamam Rashid dalam “Iran wants a war of attrition. Can the Gulf keep up?” (Monocle, 4 Maret 2026) memaparkan realitas pahit yang dihadapi koalisi AS-Israel.

Dalam catatan Rashid, setiap drone Shahed produksi Iran hanya membutuhkan biaya 20.000 (setara Rp330.000.000) hingga 50.000 dolar (setara Rp825.000.000), sementara rudal interceptor Patriot atau Thaad yang digunakan untuk menembak jatuhnya mencapai 500.000 (setara Rp8,27 miliar) hingga 1,5 juta dolar (setara Rp24,8 miliar) per unit.

Dengan rasio biaya 1:20, Iran unggul secara ekonomis dalam setiap pertukaran tembakan. Ketika ribuan drone dan ratusan rudal diluncurkan dalam gelombang beruntun, beban ekonomi pertahanan menjadi sangat timpang. Negara-negara Teluk yang kaya raya mendadak menghadapi kenyataan bahwa kekayaan mereka terkuras habis hanya untuk mempertahankan langit mereka sendiri.

Menarik menyimak pendapat Mauricio D. Aceves, penasihat untuk isu keamanan dan perbatasan di STRATOP Risk Consulting, anggota Dewan Hubungan Luar Negeri Meksiko, dan analis isu-isu kontemporer Timur Tengah dan Asia Tengah.

Dalam tulisannya “The geometry of attrition” (Gateway House, 5 Maret 2026), Aceves memperkirakan Iran memiliki 2.000 hingga 3.000 rudal balistik dari berbagai kelas, ditambah ribuan drone yang sebagian besar merupakan varian Shahed dengan kemampuan jelajah jarak jauh. Stok ini cukup untuk mempertahankan tekanan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan jika produksi dalam negeri terus berjalan.

Pendapat lain dari Kelly A. Grieco, Senior Fellow di Program Reimagining US Grand Strategy di Stimson Center, melihat situasi perang atrisi ini sebagai “salvo competition” atau perlombaan siapa yang kehabisan amunisi lebih dulu. Sementara AS dan sekutu harus mengimpor rudal canggih dengan waktu produksi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, Iran dapat memproduksi drone pengganti secara massal dalam waktu singkat.

Fakta ini menjelaskan mengapa Iran tetap percaya diri meskipun menghadapi kekuatan militer terbesar dunia. Mereka tidak perlu mengalahkan lawan secara langsung; cukup bertahan lebih lama dan memaksa lawan kehabisan peluru lebih dulu.

Strategi Iran juga dirancang untuk mengeksploitasi keretakan di antara negara-negara Teluk yang menjadi basis logistik AS. Marco Carnelos dalam “Iran is gearing up for a long war of attrition” (Middle East Eye, 6 Maret 2026) mencatat bahwa tewasnya Khamenei telah menghapus semua garis merah yang selama ini membatasi respons Iran. Negara mana pun yang menjadi tuan rumah basis militer AS kini dianggap target sah.

Uni Emirat Arab menjadi sasaran terberat dengan lebih dari setengah total serangan di kawasan Teluk. Dalam sepekan pertama saja, 212 rudal dan lebih dari seribu drone diarahkan ke wilayah UEA. Jonathan Whittall menjelaskan bahwa UEA selama ini menjalankan kebijakan luar negeri berbasis “strategi fragmentasi”, yakni bekerja sama dengan Israel untuk memecah lawan politik di kawasan menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola.

Asumsinya, stabilitas domestik UEA tidak akan terganggu oleh manuver regional tersebut. Namun ketika rudal menghantam kawasan Jebel Ali dan langit Dubai dipenuhi kepulan asap, ilusi pemisahan itu runtuh total. Anwar Gargash, penasihat presiden UEA, dengan terus terang mengakui negaranya kini menjadi “bagian lemah” dalam perang yang tidak pernah mereka minta.

1 2Laman berikutnya
Back to top button