NASIONAL

Tanpa Netanyahu, Timur Tengah Aman

Jakarta (SI Online) – Politisi senior Prof. Amien Rais menyatakan, ada perkembangan politik regional Timur Tengah yang sangat ganjil. Aneh.

Keganjilan itu berupa usaha tokoh-tokoh Israel yang mencoba menipu dunia yang disokong oleh Donald Trump yang dijuluki oleh Chris Hages, wartawan senior di Amerika sebagai manusia super idiot dan manusia ‘possible‘. “Manusia yang sangat lihai dan licin dalam urusan tipu-menipu. Ya, itulah Trump,” jelasnya.

Amien menjelaskan ketika para agen Mossad, dinas intelijen Israel berhasil membunuh Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, segera putra kandungnya Ayatullah Mojtaba Khamanei yang menggantikan sang ayah langsung membuat ancaman. Putra kandung Khamanei memutuskan sebuah keputusan penting, yaitu menjadi kewajiban Iran untuk melenyapkan Netanyahu dari panggung sejarah.

“Nama Trump tidak disebutkan. Mungkin karena rudal Iran lebih sulit menjangkau Trump yang tinggal di Amerika. Nah, para pengamat Timur Tengah di Indonesia termasuk beberapa dosen dari beberapa perguruan tinggi sepertinya juga terbawa oleh kebohongan Israel dan Amerika. Mereka percaya bahkan kagum pada Israel sehingga komentar-komentar mereka sedikit banyak agak menggelikan. Jadi pokoknya Israel lebih cerdas, pokoknya arsenal atau gudang persenjataannya tak mungkin tertandingi oleh Iran. Jadi kalau zaman dulu oknum-oknum seperti itu dianggap oleh masyarakat sebagai kaum inlander. Itu manusia-manusia yang dihinggapi penyakit rendah diri. Sebutannya mereka sedang menghina diri sendiri dengan punya penyakit rendah diri itu ya,” terang Amien dalam video terbarunya, dikutip Kamis (19/03/2026).

Jadi seolah-olah, kata Amien, bangsa berkulit sawo matang dan berambut hitam ditakdirkan kalah menghadapi mereka yang berkulit putih dan berambut pirang.

“Sekarang mentalitas rendah diri itu bahkan bisa kita lihat di jalan-jalan raya berbagai kota di Indonesia. Jadi cukup banyak muda-mudi kita yang menyemir rambutnya dengan warna merah muda sehingga rambut mereka menjadi berwarna pirang. Nah, pernah saya berada di satu mobil dengan Dirut Bank Rakyat Indonesia, Saudara Dr. Joko Santoso, di sebuah jalan raya di Jakarta sekian tahun yang lalu. Saya sudah lupa tahunnya. Nah, tiba-tiba beliau nyeletuk, “Mas, lihat itu pemuda-pemudi kita jadi LKMd. Saya tanya, “Apa itu LKMD?” Beliau sambil tertawa mengatakan, “Londo kok mung ndase, Belanda kok cuma kepalanya,” papar Amien.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini ingat ketika ia berkuliah dua tahun di Universitas Notterdam dan lima tahun di Chicago, teman-temannya yang berkulit putih ada juga yang pekok dan telat mikir. Sementara yang berkulit hitam tidak sedikit, yang cukup cerdas.

“Hal ini nampak dengan jelas ketika ada seminar di fakultas atau departemen istilah di sana. Ketika terjadi adu argumen, adu narasi dan adu logika, mahasiswa berkulit putih ada juga yang plonga-plongo. Sementara yang berkulit hitam cukup banyak yang pembicaraannya lebih logis, lebih sistematik dan karenanya lebih berbobot. Terus terang saya merasa risih mendengar puja-puji dan kekaguman pada Netanyahu yang terlontar dari sebagian dosen dan intelektual Indonesia. Kesimpulan mereka berlari ke metode pokoknya. Pokoknya Israel hebat, pokoknya Iran backward, terbelakang,“ paparnya.

Amien mengaku pernah lima kali berkunjung ke Iran. “Saya juga pergi ke Isfahan dan dua kali ke Qum, kota penggemblengan para Ayatullah. Bahkan saya pernah menemani Mas Prabowo ke Tripoli Libya bertemu dengan Presiden Qaddafi. Demikian juga dari Libya kami pergi ke Teheran untuk menemui Ayatullah Khamenei waktu itu. Tapi beliau sedang ada kegiatan di Isfahan. Nah, saudara-saudara supaya tidak disalahpahami, saya menemani Pak Prabowo ke kedua negara di Timur Tengah itu bukan untuk urusan politik sama sekali, bukan, tetapi urusan bisnis minyak Pak Prabowo. Yang menemani Prabowo waktu itu di samping saya ada juga almarhum Prof. Syafi’i Maarif dan Ustadz Muhyidin Mawardi, salah satu tokoh MUI, Majelis Ulama Indonesia dan sekaligus juga beliau pernah menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bogor,“ jelasnya.

Amien mengingatkan para intelektual dan para dosen hubungan internasional di berbagai kampus, jangan pernah mengagumi Netanyahu yang dua kali pernah diperingatkan oleh PBB, lewat The United Nation Independent International of Inquiry yang menyatakan dengan tegas bahwa Israel di bawah Netanyahu ‘had commited genocide against Palestine‘. Jadi di bawah Netanyahu itu diperingatkan oleh lembaga PB tadi, bahwa Netanyahu pernah melakukan atau sedang melakukan waktu itu yaitu genosida, memusnahkan manusia tanpa alasan sama sekali sehingga semuanya menjadi ‘unlawful killing‘, pembunuhan yang tidak bisa dibenarkan sama sekali.

“Nah, Netanyahu itu manusia yang sangat bengis sehingga Badan Kemanusiaan PBB mengeluarkan peringatan yang sangat tajam pada 16 September 2025 yang menjelaskan ada lima langkah genosida Netanyahu yaitu pertama pembunuhan massal warga sipil. Kedua, menimpakan penderitaan fisik dan mental pada bangsa Palestina. Ketiga, menciptakan proses pelenyapan kehidupan rakyat Palestina. Keempat, menghalangi kelahiran bayi-bayi Palestina supaya tidak muncul generasi baru Palestina. Dan kelima, secara sistematis dilakukan ‘eksterminasi’ atau pelenyapan eksistensi Palestina tanpa pandang usia. Nah, karena itu kepada saudara-saudara bangsa Indonesia, hentikanlah keblingeran Anda yang terlanjur mengagumi Israel dan Netanyahu sambil membai buta, menyalahkan Iran dan lain sebagainya,” tegas mantan Ketua MPR ini.

1 2Laman berikutnya
Back to top button