Trump Sedang Membangun Tatanan Dunia Baru
Tujuannya adalah mengganti hukum internasional dengan hukum si penggertak. Dan ia sedang menuju ke sana.
Oleh: Nick Dearden, Direktur organisasi kampanye Inggris Global Justice Now.
Kehadiran Trump di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos bulan lalu pada dasarnya hanya untuk satu hal: menunjukkan kepada kaum kaya dan berkuasa siapa yang menjadi bos. Sebagaimana ditegaskan oleh menteri perdagangannya di resor Swiss tersebut, “Di bawah Presiden Trump, kapitalisme punya sherif baru.”
Menjelang pertemuan puncak itu, Trump meningkatkan ancaman terhadap Greenland, memaksa para pemimpin Barat akhirnya menyadari bahwa di balik bualannya, Trump mungkin sungguh-sungguh berniat mengguncang dunia mereka. Jika digabungkan dengan invasi Trump ke Venezuela dan perang tarif yang terus berlangsung, tindakan presiden Amerika Serikat itu menunjukkan munculnya sebuah model kapitalisme baru—yang tidak lagi bertumpu pada aturan pasar, melainkan pada pemaksaan langsung oleh negara dan persaingan geopolitik.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengungkapkannya dengan sangat tepat ketika ia mengatakan bahwa Trump mewakili “sebuah retakan, bukan sekadar transisi”. Tatanan internasional berbasis aturan memang sarat kemunafikan dan standar ganda, kata Carney, tetapi ekonomi yang didominasi Amerika ini tetap memberikan tingkat stabilitas tertentu bagi negara-negara seperti Kanada, hari ini, “kesepakatan itu tidak lagi bekerja”.
Carney benar. Trump sedang memimpin upaya untuk mengubah tatanan internasional. Dan itu berarti mengubah cara kapitalisme bekerja.
Selama puluhan tahun, kita hidup di bawah bentuk kapitalisme neoliberal. Secara teori, sistem ini didasarkan pada supremasi pasar bebas. Dalam praktiknya, ia adalah sistem yang sangat monopolistik, di mana keputusan-keputusan besar tentang bagaimana kita hidup ditentukan oleh kelompok pemimpin bisnis dan investor kaya yang semakin terkonsentrasi. Sistem semacam ini telah mendorong tingkat ketimpangan dan kerusakan lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, serta menggerogoti demokrasi hingga nyaris tidak berfungsi.
Kita pernah berada di situ sebelumnya. Pada akhir abad ke-19, ekonomi “pasar bebas” yang terglobalisasi juga menciptakan ketimpangan masif, didominasi oleh segelintir industrialis dan ‘finansier robber baron’ (alit keuangan yang menguasai sistem ekonomi). Ketika imperium bisnis ini bekerja sama dengan negara-bangsa untuk memperluas pasar mereka ke seluruh dunia, perang menjadi tak terelakkan.
Di beberapa negara, para pemimpin fasis naik ke tampuk kekuasaan, menyingkirkan oposisi demokratis terhadap para titan bisnis, meleburkan mereka ke dalam proyek nasionalisme agresif, serta menggunakan seluruh kekuatan negara untuk mendorong keuntungan korporasi dan menjadikan perolehan laba itu bagian dari proyek dominasi dunia. Dalam banyak hal, fasisme adalah ekspresi paling ekstrem dari kekuasaan monopoli. Ekonomi fasis dicirikan oleh peleburan kekuasaan negara dengan monopoli korporasi, mobilisasi industri untuk ekspansi nasionalis, serta penindasan terhadap pengawasan ekonomi yang demokratis.
Trump merepresentasikan sesuatu yang serupa. Ia akan menggunakan perang ekonomi atau militer untuk mencapai tujuannya dan secara terang-terangan menggunakan kekuasaan negara untuk memperkaya korporasi-korporasi terbesar dalam sejarah, dengan meningkatkan subsidi negara dan perlindungan publik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun Trump bukanlah boneka para pemimpin bisnis; sebaliknya, ia ingin mengubah cara mereka berfungsi. Trump kerap berkonflik dengan para birokrat korporasi yang “woke” (sadar), menggertak mereka agar menyatu dengan proyek politiknya—sebagaimana para pemimpin fasis melakukannya seratus tahun lalu.
Inilah sebabnya ketertarikan Trump untuk mencampuri negara-negara lain sering membingungkan banyak kalangan bisnis. Trump mengatakan bahwa invasinya ke Venezuela adalah soal minyak. Namun, banyak perusahaan minyak justru tampak enggan berinvestasi. Duta Besar AS untuk PBB menyatakan bahwa minat Trump terhadap Greenland berkaitan dengan penguasaan mineral kritis yang dibutuhkan untuk produk militer dan teknologi tinggi lainnya. Tetapi penambangan mineral tersebut tampaknya terlalu sulit bagi banyak pelaku bisnis untuk dipertimbangkan.
Sebagian orang berpendapat bahwa Trump sekadar tertarik memperkaya para spekulan di sekelilingnya. Dan memang ada unsur itu—cukup lihat dana lindung nilai (hedge funds) yang dilaporkan meraup untung besar ketika Trump mengancam intervensi di Venezuela. Namun ada sesuatu yang lebih dalam. Trump memandang dunia sebagai arena persaingan kekuatan besar, di mana Cina adalah pesaing utama Amerika, sementara Eropa juga perlu “tahu diri”. Untuk mempertahankan dominasi AS, penguasaan sumber daya menjadi krusial—termasuk yang terkubur jauh di bawah tanah—setidaknya agar tidak direbut oleh pihak lain.
Rencana Trump -meski terbuka untuk berubah dan diterapkan secara sangat ‘erratik’ (inkonsisten), bahkan terkadang kontradiktif-adalah dunia di mana hukum internasional sepenuhnya digantikan oleh hukum si penggertak. Pada gilirannya, ini merupakan reaksi terhadap dinamika ekonomi global yang tidak berkelanjutan. Karena itu, kemungkinan besar ia akan bertahan melampaui Trump sendiri. Maka kita tidak bisa menunggu pemilu untuk menyelamatkan kita. Jika ingin mengalahkan politik Trump, kita harus melawannya sekarang.






