#Tragedi KM50NASIONAL

Tujuh Pertanyaan IPW Terkait Penembakan terhadap Enam Laskar FPI

Jakarta (SI Online) – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengajukan sejumlah pertanyaan terkait peristiwa penembakan oleh polisi yang mengakibatkan gugurnya enam anggota Laskar Front Pembela Islam (LPI) di jalan tol Cikampek, Senin dini hari, 7 Desember 2020. Setidaknya Neta mengajukan tujuh pertanyaan.

“Pertama, jika benar FPI mempunyai laskar khusus yang bersenjata, kenapa Baintelkam tidak tahu dan tidak melakukan deteksi dan antisipasi dini serta tidak melakukan operasi persuasif untuk “melumpuhkannya”,” kata Neta dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/12).

Pertanyaan kedua, lanjut Neta, apakah penghadangan terhadap rombongan Habib Rizieq di KM 50 Tol Cikampek arah Karawang Timur itu sudah sesuai SOP, mengingat polisi penghadang mengenakan mobil dan pakaian preman.

Baca juga: Enam Laskar FPI Gugur di Tangan Polisi, IPW: Bentuk TPF Independen

Ketiga, jika Polri menyebutkan bahwa anggotanya ditembak lebih dulu oleh Laskar Khusus FPI, berapa jumlah tembakan itu dan adakah bukti bukti, misalnya ada mobil polisi yang terkena tembakan atau proyektil peluru yang tertinggal.

Keempat, dimana TKP tewas tertembaknya keenam anggota Laskar Khusus FPI itu karena menurut rilis FPI keenam anggotanya itu diculik bersama mobilnya di jalan tol.

Kelima, keenam anggota FPI yang tewas ditembak itu bukanlah anggota teroris, sehingga polisi wajib melumpuhkannya terlebih dahulu karena polisi lebih terlatih dan polisi bukan algojo tapi pelindung masyarakat.

Keenam, jalan tol adalah jalan bebas hambatan sehingga siapa pun yang melakukan penghadangan di jalan tol adalah sebuah pelanggaran hukum, kecuali sipengandara nyata nyata sudah melakukan tindak pidana.

Ketujuh, penghadangan yang dilakukan oleh mobil sipil dan orang orang berpakaian preman, patut diduga sebagai pelaku kejahatan di jalan tol, mengingat banyak kasus perampokan yang terjadi di jalanan yang dilakukan orang tak dikenal. Jika polisi melakukan penghadangan seperti ini sama artinya polisi tersebut tidak promoter.

“Dengan tewas tertembaknya keenam anggota FPI itu, yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini adalah Kapolri Idham Azis,” tegas Neta.

Neta menuding, tidak promoternya Idham Azis dalam mengantisipasi berbagai hal terkait Habib Rizieq sudah terlihat sejak kedatangan Imam Besar FPI di Bandara Soetta. Menurut dia, Kapolri tidak melakukan antisipasi secara profesional tapi terbiarkan hingga menimbulkan masalah.

red: a.syakira

Artikel Terkait

Back to top button