Turkiye Bebas Teror: Perdamaian Lokal yang Membentuk Ulang Kawasan
Beberapa koridor energi utama melalui Turkiye antara lain:
- Pipa Gas Alam Trans-Anatolia (TANAP): menyalurkan 16 miliar meter kubik per tahun ke Eropa,
- TurkStream: menyalurkan 31,5 miliar meter kubik ke Eropa Tenggara,
- Pipa Minyak Baku–Tbilisi–Ceyhan (BTC): mengangkut 1,2 juta barel per hari.
Sejak 1980-an, PKK telah melancarkan lebih dari 60 serangan besar terhadap infrastruktur energi vital Turkiye, menyebabkan kerugian miliaran dolar dan mengancam keamanan energi Eropa.
Kini, dengan lenyapnya ancaman tersebut, Turkiye bebas teror menjadi faktor penting bagi kemandirian energi Eropa, memerlukan kerja sama aktif dari sekutu Eropa dan NATO.
Tanggung jawab bersama
Uni Eropa menyambut pembubaran PKK sebagai peluang besar, menyatakan kesiapan mendukung proses perdamaian ini. Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, menyebutnya “salah satu kabar baik langka dari kawasan”, sementara Nacho Sanchez Amor, pelapor Parlemen Eropa untuk Turkiye, menggambarkannya sebagai “langkah bersejarah”.
Pembubaran PKK — yang diakui sebagai organisasi teroris oleh UE dan AS — beserta proksinya di Suriah (YPG dan SDF), diharapkan dapat memperkuat demokrasi Turkiye, memenuhi ekspektasi UE, dan mempercepat proses aksesi. Bagi NATO, di mana Turkiye merupakan jangkar tenggara yang lama, tindakan sesuai semangat aliansi dan prinsip pacta sunt servanda (“perjanjian harus ditepati”) menjadi keharusan.
Menembus hambatan
Tantangan utama adalah memastikan bahwa seluruh anggota PKK dan kelompok terkait benar-benar mematuhi proses pembubaran, khususnya sesuai perjanjian 10 Maret 2025, di mana kelompok YPG/SDF sepakat untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Suriah di bawah otoritas Damaskus.
Kegagalan untuk melucuti senjata dan berintegrasi akan mengancam keamanan kawasan dan stabilitas Eropa secara langsung.
Faktor lain yang merusak stabilitas adalah Israel. Dukungan berkelanjutan Israel terhadap YPG/SDF menghambat proses pembubaran dan memicu separatisme bersenjata di sepanjang perbatasan Turkiye. Selain itu, bencana kemanusiaan di Gaza mengguncang stabilitas kawasan, sementara Israel memperluas operasi militernya ke Suriah, Lebanon, Iran, Tunisia, Yaman, bahkan Qatar selama pembicaraan gencatan senjata — pelanggaran hukum internasional yang mengancam keseimbangan rapuh yang baru mulai pulih.
Fajar baru
Puluhan tahun ketakutan, penderitaan, dan perpecahan kini bisa digantikan oleh solidaritas dan kemakmuran. Jalan ke depan tak akan mudah, namun persatuan politik, kohesi sosial, dan kerja sama internasional dapat menjadikan momen ini sebagai peluang bersejarah.
Turkiye yang bebas teror akan melindungi jalur energi dan perdagangan vital, sekaligus menawarkan visi kepercayaan regional dan kemajuan bersama.
Transformasi ini memiliki dampak besar bagi kawasan yang membentang dari Eropa hingga Kaukasus dan Timur Tengah. Dengan menghapus ancaman teror, kekacauan, dan gelombang migrasi baru, Turkiye memperkuat keandalan koridor pasokan penting bagi Eropa, menarik lebih banyak investasi internasional di bidang energi dan logistik, serta menciptakan kondisi bagi negara-negara tetangga untuk membangun stabilitas, bukan konflik.
Jika dijalankan dengan tekad, jalur ini akan membuka jalan menuju masa depan yang ditandai oleh arsitektur keamanan berkelanjutan dan perdamaian abadi yang berlandaskan manfaat bersama. []
Sumber: Al Jazeera






