TEKNOLOGI

Universitas Tidak Boleh Jadi Rantai Pasok bagi AI

Bagi pihak CSU, langkah ini merupakan peluang pencitraan yang sangat besar bagi institusi mereka. Hal itu terjadi karena belum ada universitas lain di dunia yang mengadopsi AI dalam skala masif seperti ini.

Namun, logika finansial di balik keputusan tersebut sebenarnya jauh lebih sulit untuk dipahami. Meski menghadapi pemotongan anggaran sekitar 144 juta dolar AS, bulan lalu CSU justru memperbarui kontrak dengan biaya yang jauh lebih mahal.

Nilai kontrak baru itu mencapai 13 juta dolar AS per tahun selama tiga tahun, atau sekitar 39 juta dolar AS secara total. Keputusan ini semakin memperbesar taruhan mereka pada AI, justru ketika penghematan ketat sedang dilakukan di sektor lain.

Apa yang Terjadi jika Universitas Mulai Mengotomatisasi Pekerjaan?

Apa yang terjadi jika universitas mulai memperlakukan semakin banyak pekerjaan mereka sebagai sesuatu yang bisa dialihdayakan atau dibuat lebih murah melalui AI? Kita dapat melihat contoh kecil tetapi menarik dalam upacara wisuda di Glendale Community College (GCC) di Arizona.

Pimpinan kampus tersebut menggunakan sistem AI untuk membacakan nama para lulusan saat mereka menerima ijazah di atas panggung. Sayangnya, sistem kecerdasan buatan itu gagal mencocokkan nama yang benar dengan mahasiswa yang sedang berjalan.

Akibat kekacauan sistem tersebut, nama yang terpampang di layar besar tidak sesuai dengan mahasiswa yang sedang menerima ijazah. Presiden GCC, Tiffany Hernandez, langsung mendapat sorakan penolakan dari mahasiswa dan keluarga mereka ketika mencoba menjelaskan situasi tersebut.

Ia berkata: “Ya, ya. Jadi itu menjadi pelajaran bagi kami.”

Seorang lulusan mengatakan kepada media bahwa permintaan maaf Hernandez tidak terasa tulus dan terkesan mereka tidak peduli. Lulusan tersebut kemudian menambahkan kalimat berikut:

“Saya berharap ada lebih banyak pemikiran daripada sekadar menyerahkan tugas sederhana seperti membacakan nama kepada perangkat AI.”

Masalah Menjadi Lebih Serius

Masalah akan menjadi jauh lebih serius ketika implementasi AI berpindah dari urusan administrasi ke ranah pengajaran dan penilaian akademik. Para pendukung AI selalu berargumen bahwa teknologi ini dapat mengurangi beban administrasi dan menekan biaya operasional kampus.

Mereka percaya AI pada akhirnya bisa menjadi lebih baik dalam merancang kelas, menilai tugas, dan merangkum teks-teks akademik yang sulit. Namun, janji-janji manis tersebut nyatanya berdampingan dengan kekhawatiran besar mengenai masalah privasi, bias sistem, dan akuntabilitas.

Di samping itu, muncul pula sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar mengenai esensi pendidikan. Jika begitu banyak aspek kehidupan universitas disederhanakan dan diotomatisasi, apa yang tersisa dari ekosistem pembelajaran serta pendampingan manusia?

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button