Universitas Tidak Boleh Jadi Rantai Pasok bagi AI
Padahal, relasi mendalam antara dosen dan mahasiswa tersebut merupakan fondasi utama dari sebuah universitas. Bukti-bukti empiris mengenai performa AI dalam penilaian tugas akademik sejauh ini juga cukup mengkhawatirkan.
Sebuah tim yang dipimpin oleh Universitas Cambridge menguji tiga sistem AI mutakhir dalam menilai karya tulis ilmiah. Hasilnya menemukan bahwa AI sering memberi nilai terlalu rendah pada karya yang dinilai sangat baik oleh manusia, atau sebaliknya, terlalu tinggi pada esai berkualitas rendah.
Berbeda dengan penguji manusia, semua sistem digital tersebut rupanya terlalu sensitif terhadap ciri kebahasaan yang superfisial. Mereka hanya menilai panjang esai, variasi kosakata, dan kompleksitas kalimat yang sering kali tidak berkaitan dengan standar kualitas akademik.
Deborah Talmi, selaku pemimpin dari studi tersebut, memberikan peringatan keras:
“Penilaian bukan sekadar sistem pembagian nilai. Penilaian adalah bagian dari bagaimana makna pendidikan dibentuk—agar mahasiswa merasa dilihat, standar terjaga, dan kepercayaan dipelihara. Penggunaan AI dalam penilaian berisiko terhadap nilai-nilai tersebut.”
Inilah Inti Persoalannya
Mahasiswa masuk ke universitas bukan hanya untuk mendapatkan selembar ijazah atau sekadar menyelesaikan kurikulum formal. Mereka ingin diperhatikan secara manusiawi, minat mereka dikembangkan, dan dibantu memahami dunia serta posisi mereka di dalamnya.
Jika universitas menyerahkan semakin banyak fungsi mendasar ini kepada AI, mereka berisiko melemahkan relasi manusia yang membuat pendidikan tinggi bermakna. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI dapat menghambat kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Teknologi ini dikhawatirkan dapat melemahkan keterampilan kognitif mendalam yang justru sangat dibutuhkan oleh mahasiswa setelah mereka lulus nanti. Karena itu, universitas perlu bersikap sangat berhati-hati terhadap narasi tentang revolusi AI yang katanya segera datang.
Suara paling keras yang mendorong narasi revolusi ini sebenarnya berasal dari ekosistem perusahaan dan tokoh teknologi. Mereka adalah pihak-pihak yang telah berinvestasi dalam skala raksasa untuk mengembangkan AI dan infrastruktur digitalnya.
Meskipun valuasi perusahaan mereka meningkat tajam, investasi besar tersebut belum menghasilkan keuntungan riil yang cukup untuk membenarkan antusiasme yang dibangun. Para kritikus yang memperingatkan adanya “gelembung AI” mengatakan bahwa keuntungan raksasa hanya akan tercapai jika teknologi ini diadopsi di mana-mana.
AI harus merambah dalam segala hal dengan kecepatan tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Universitas menjadi sangat berharga dalam proyek kapitalisasi ini karena mereka mampu memberikan legitimasi, skala ekonomi, dan akses langsung bagi perusahaan AI ke tenaga kerja masa depan.
Masalahnya, universitas kini mulai diperlakukan tak ubahnya roda penggerak dalam mesin pencetak keuntungan bagi perusahaan teknologi besar. Sementara itu, mahasiswa dan lulusan hanya dijadikan pion demi menjaga kelayakan finansial dari industri AI tersebut.





