OASE

Visi ‘Shalih Mushlih’: Menghapus Dikotomi Agama dan Sains dalam Pendidikan

Dalam perspektif Islam, amal saleh memiliki cakupan makna yang sangat luas. Nilainya tidak terbatas pada ibadah ritual semata seperti salat dan puasa.

Amal saleh meliputi seluruh aktivitas kehidupan manusia yang dilandasi niat yang benar serta memberikan manfaat riil. Secara garis besar, amal saleh mencakup amal keagamaan, amal sosial, dan amal kauniyah yang berkaitan erat dengan pengelolaan alam semesta.

Pemikiran Prof. Majid Irsan al-Kilani dalam kitabnya menegaskan bahwa amal saleh merupakan implementasi hubungan manusia yang utuh. Hubungan tersebut meliputi ikatan makhluk dengan Allah Swt., sesama manusia, alam semesta, kehidupan, hingga hari akhirat.

Dengan kata lain, tidak ada pemisahan antara ibadah dan aktivitas duniawi. Semua kegiatan dinilai ibadah selama dilakukan dalam koridor syariat dan demi kemaslahatan umat.

Pendidikan yang berorientasi pada visi shalih mushlih juga harus dibangun di atas prinsip integrasi. Amal keagamaan, sosial, dan profesional tidak boleh berjalan sendiri-sendiri secara parsial.

Selain itu, karakteristik amal saleh bukan hanya mengejar manfaat, melainkan juga berupaya menolak kemudaratan. Implementasi ini memerlukan pembinaan, pelatihan, lingkungan yang mendukung, metode yang tepat, serta bimbingan para ahli agar menghasilkan dampak nyata.

Menariknya, Al-Qur’an menghadirkan contoh konkrit amal saleh dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Dalam bidang keilmuan misalnya, Allah Swt. secara khusus meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Hal ini menjadi bukti bahwa aktivitas belajar dan mengembangkan sains merupakan bagian dari amal saleh. Syaratnya, aktivitas tersebut harus diniatkan demi kemanfaatan dan kemajuan umat.

Dalam bidang ekonomi, Islam mengajarkan pentingnya meninggalkan praktik riba dan menumbuhkan ekosistem sedekah. Nilai-nilai ini menjadi fondasi utama bagi terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan.

Aktivitas ekonomi yang dijalankan secara jujur dan bertanggung jawab akan bertransformasi menjadi bagian dari ibadah kepada Allah Swt. Begitu pula halnya dalam bidang pertanian, keterampilan produksi, profesi, hingga hubungan sosial.

Seorang petani yang bekerja dengan amanah dan seorang perajin yang menghasilkan karya berkualitas termasuk dalam manifestasi amal saleh. Demikian pula dengan seorang pelaut yang mencari nafkah halal, hingga orang tua yang bermusyawarah dalam mengasuh anak.

Semua aktivitas profesi tersebut dinilai mulia ketika dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah Swt. Pandangan inklusif ini memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan Islam.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button