SUARA PEMBACA

Waspada Nyala OBOR Melalap Zamrud Khatulistiwa!

Utang adalah ibu dari kebodohan dan kejahatan yang produktif (Benjamin Disraeli, penulis Inggris, abad 18).

Akhirnya proyek kerja sama Indonesia dan China One Belt One Road (OBOR) atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor siap dilaksanakan. Hal itu ditandai dengan ditandatanganinya 23 Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara pebisnis Indonesia dan China setelah pembukaan KTT Belt and Road Forum Kedua di Beijing, Jumat (26/4/2019).

Dari 23 proyek tersebut , nilai investasi 14 MoU di antaranya total US$14,2 miliar. Jumlah yang fantastis. Meski demikian, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa nilai tersebut bukanlah hutang yang harus ditanggung pemerintah. Hal itu bisa terjadi karena hampir semua proyek yang termasuk dalam Koridor Belt and Road sifatnya business to business (B to B), bukan governor to governor (G to G).

“Kita (proyek Empat Koridor Belt and Road) hampir tidak ada urusan pada debt atau utang nasional,” katanya. (bisnis.com, 27/4/2019).

Sebelumnya Menko Luhut juga menggelar karpet merah bagi Cina untuk turut serta dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Dengan syarat standar lingkungan yang baik, pemanfaatan tenaga kerja Indonesia, dan alih teknologi berstandar internasional. (antaranews.com, 24/4/2019).

Sekilas tampak penuh madu. Segenap rakyat tentu mengharap dapat mereguknya. Ajib, kalangan ulama justru menolak tanpa ragu. Para ulama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama Aswaja mengecam kesepakatan kerja sama pemerintah Indonesia dan China melalui OBOR. Sebab dinilai akan membahayakan kedaulatan Indonesia dan berdampak buruk bagi kehidupan bernegara. Indonesia lambat laun berisiko menjelma sebagai daerah jajahan China. Juga menjadi penampungan Tenaga Kerja Asing, seperti yang telah marak khususnya di Sulawesi Tenggara. (shoutululama.co, 29/4/2019).

Bila demikian sudah tentu seluruh anak negeri harus mewaspadai nyala OBOR agar tak sampai terjilat api. Lalu menyesal di kemudian hari.

Jerat Utang di Balik OBOR

Sejak tahun 2013 di bawah komando Xi Jinping, Beijing menerapkan kebijakan luar negeri baru, terutama di bidang ekonomi dan investasi. Terobosan dalam strategi pengelolaan dana investasi ke luar negeri. Pembentukan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan OBOR pun dicanangkan.

Tujuannya adalah membangun infrastruktur lintas benua. Beijing ingin memperluas jaringan dagang menuju Eropa, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, baik melalui darat maupun laut.

Selain itu tujuan berikutnya ialah agar pasokan bahan baku dan energi China tetap terjamin dalam jangka panjang dan pasar ekspornya terus berkembang. Hal ini jelas dari strategi OBOR yang melanjutkan ambisi mewujudkan String of Pearls (Rangkaian Mutiara).

Rangkaian Mutiara memanjang dari pantai daratan Cina melalui pesisir di Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintasi Samudera Hindia, dan ke pesisir Laut Arab dan Teluk Persia. (Fika M Komara, String of Pearls, 2011). Seluruhnya merupakan strategi China guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi.

Hanya saja timbul kecemasan apabila Selat Malaka dikuasai pihak lain utamanya Amerika. Hal ini tercermin dari perkataan Zhao Yuncheng, cendekiawan dari China‘s Institute of Contemporary International Relations, “whoever controls the Straits of Malacca and the Indian Ocean could threaten China‘s oil supply route.” (Siapa saja yang menguasai Selat Malaka dan Samudera Hindia dapt mengancam rute suplai minyak China).

Jadilah OBOR hadir sebagai penyempurna String of Pearls. Sabuk (belt)-nya akan melintas di selat-selat dan perairan Indonesia. Diprediksi bila Selat Malaka diblokade, maka alternatif jalur paling singkat menuju Samudera Hindia, Laut Arab, guna mengamankan jalur suplai energi sesuai rute String of Pearls adalah Selat Sunda, atau Selat Lombok di antaranya.

Oleh karena itu, Cina secara aktif melakukan investasi dan memberikan pinjaman. Demi membangun infrastruktur yang menunjang perdagangan dengan China. Utamanya ke negara-negara berkembang yang kaya sumber daya energi.

Sayang, galibnya kapitalis tak ada makan siang gratis. Beijing memperlakukan proyek-proyek infrastruktur di bawah kebijakan Belt and Road itu sebagai utang dalam bentuk konsesi jangka panjang. Sekali terjerat sukar lolos melenggang.

Zimbabwe, salah satu negeri dengan cerita yang mengenaskan. Gagal membayar utang sebesar US$40 juta kepada Cina. Sejak 1 Januari 2016, mata uangnya harus diganti menjadi Yuan, sebagai imbalan penghapusan utang.

Berikutnya Nigeria. Model pembiayaan infrastruktur melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang. Cina mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal negara mereka. (Rmol.co, 12/09/2018)

Terpapar fakta utang luar negeri yang pastinya ribawi membuat negara pengutang seakan terjerumus dalam jurang kelam tak berdasar. Entah kapan bisa terbayar lunas. Tak berlebihan jika dikatakan utang luar negeri sejatinya merupakan senjata politik negara-negara kapitalis pemberi utang. Dengan kata lain sebagai alat penjajahan terhadap negara Dunia Ketiga, yang mayoritas negeri-negeri Muslim. Di sinilah penolakan ulama Aswaja bertemu relevansinya.

Padamkan Nyala OBOR dengan Islam

Islam sangat menjunjung tinggi kemandirian. Dengannya kewibawaan niscaya akan terpancar. Dicintai kawan disegani lawan. Rasulullah saw. bersabda:

“Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya – untuk mengikat – lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali – di negerinya – dengan membawa seonggok kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya, kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya – yakni dicukupi kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari).

Terhadap individu demikian terlebih negara. Islam menutup setiap celah yang mengarah pada ketergantungan dengan pihak lain. Karena ujungnya sudah pasti kehinaan. OBOR dengan perangkat utangnya dapat mengantarkan negeri ini pada kondisi demikian. Tergadai dalam jebakan utang dan penjajahan menjadi suatu hal yang bukan tak mungkin. Menyedihkan.

Bukankah Indonesia dikenal zamrud khatulistiwa yang kaya sumber daya alam dan manusianya? Seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya dan dikelola secara mandiri. Terpenting mengelola negeri ini dengan syariah yang telah Allah turunkan. Rahmat dan keberkahan akan tercurah ke penjuru negeri. Kesejahteraan dan kemakmuran niscaya terealisasi. Bukan sebaliknya, malah dilalap api. Jangan sampai. Cukuplah janji Allah dalam kalam Ilahi,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (TQS.Thaha:124). Wallaahu a’lam.

Ummu Zhafran
(Pendidik juga Pengasuh Grup Ibu Cinta Quran)

Artikel Terkait

Back to top button