NUIM HIDAYAT

Kita Semua Adalah Guru

Ketika SMA cita-citaku bukanlah menjadi guru. Aku ingin menjadi wartawan. Aku bayangkan jadi wartawan itu enak. Bisa meliput kemana-mana. Bisa bertemu orang berbagai macam dan bisa melihat peristiwa berbagai hal.

Cita-citaku itu tercapai. Setelah lulus IPB, aku jadi wartawan. Menjadi reporter pertamanya. Meliput seputar Jakarta. Meliput berbagai peristiwa di ibukota. Meliput hampir tiap hari di Gedung DPR/MPR.

Hingga kemudian aku menjadi redaksi, redaksi pelaksana dan akhirnya menjadi pemimpin redaksi. Baik media cetak maupun media online sudah kujelajahi semua.

Bila anda menjadi wartawan, anda akan puas setelah menulis. Bila selesai menulis hati terasa plong dan tubuh menjadi ringan. Bila belum selesai, pikiran terus mengganggu dan hidup seperti ada yang kurang.

Menulis selain menyebabkan gairah meningkat juga menjadi hormon yang membuat kita sehat. Ketika menulis, seperti keluar hormon-hormon tertentu yang menyebabkan kita menjadi semangat. Menulis jauh lebih memeras otak daripada membaca.

Setelah mengalami puluhan tahun menjadi wartawan dan pernah menduduki kursi pemimpin redaksi, cita-citaku berubah. Aku ingin menjadi guru. Guru kecil saja tidak usah guru besar.

Guru yang tiap hari membimbing murid agar bertambah ilmunya dan semakin baik akhlaknya. Guru yang memberi inspirasi kepada para murid agar lebih shalih, cerdas dan kreatif. Guru yang memberi harapan kepada murid sehingga mereka dapat menatap masa depan yang lebih indah.

Guru mencatat sejarah pembangun peradaban. Di Yunani Kuno, Socrates menjadi simbol guru yang menghidupkan pikiran kritis, meski akhirnya dihukum mati karena kekritisannya. Muridnya, Plato, lalu melahirkan Academy, lembaga pendidikan tertua di dunia Barat.

Dalam peradaban Islam, peran guru bahkan lebih sentral. Nabi Muhammad ﷺ adalah guru bagi umatnya—mengajarkan nilai, hukum, akhlak, dan struktur sosial yang mengubah masyarakat jahiliyah menjadi peradaban berilmu.

Dari madrasah Nizamiyah di Baghdad hingga Al-Azhar di Mesir, guru menjadi poros lahirnya ilmuwan besar seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Khawarizmi. Di Jawa, Walisongo mengajarkan Islam melalui pendidikan kultural yang lembut; mereka adalah guru sekaligus pembentuk kebudayaan.

Anne Sullivan adalah contoh kegigihan seorang guru. Mengajar Helen Keller—seorang gadis tunanetra dan tunarungu—dianggap hampir mustahil. Namun dengan kesabaran dan inovasi, Sullivan membuka dunia bagi Helen. Hasilnya luar biasa: Helen Keller menjadi penulis dan aktivis internasional. Anne Sullivan membuktikan bahwa guru mampu menembus keterbatasan fisik dan mental.

Kiai Haji Ahmad Dahlan melihat pendidikan sebagai kunci reformasi sosial. Ia menggabungkan ilmu agama dengan ilmu modern, melahirkan model pendidikan yang progresif. Langkah berani ini menjadi pondasi Muhammadiyah, salah satu organisasi pendidikan terbesar di Indonesia. Guru seperti Ahmad Dahlan bukan sekadar pengajar, tetapi penggerak perubahan sosial.

1 2Laman berikutnya
Back to top button