IBADAH

Filosofi Rajab dalam Tradisi Spiritualitas Islam (Bagian 2)

Jiwār Allāh (Kedekatan kepada Allah) dan Jibārah Allāh (Pengampunan dan Pertolongan Allah)

Huruf jīm dalam kata Rajab dimaknai sebagai Jiwār Allāh/جوار الله (kedekatan kepada Allah) dan Jibārah Allāh/جبارة الله (pengampunan dan pertolongan Allah). Rajab sebagai Jiwār Allāh merupakan bulan di mana umat Islam didorong untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal saleh serta menjauhi segala bentuk dosa.

Oleh karena itu, para ulama menyerukan agar ibadah kembali digiatkan pada bulan Rajab dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sementara itu, Rajab sebagai Jibārah Allāh dimaknai sebagai terbukanya ampunan dan pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan memohon ampun secara sungguh-sungguh.

Sesungguhnya, selama ruh seseorang belum sampai ke tenggorokan dan matahari belum terbit dari tempat terbenamnya, ampunan serta penerimaan taubat Allah senantiasa terbuka kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun bagi hamba-hamba-Nya.

Baca juga: Filosofi Rajab dalam Tradisi Spiritualitas Islam (Bagian 1)

Penulis memaknai kata jibārah dengan pengampunan dan pertolongan. Kata ini seakar dengan jabara. Menurut al-Jauhari dalam Al-Ṣiā, di antara maknanya adalah “mencukupi seseorang dari kefakiran” atau “memperbaiki tulang yang patah.”

Dari akar kata yang sama lahir kata al-Jabbār, salah satu Asmaulhusna Allah SWT., serta aljabīrah, yaitu kayu atau kain (gips) yang digunakan untuk membidai tulang yang patah.

Di antara makna Asmaulhusna al-Jabbār adalah Allah Yang Maha Perkasa, yaitu Dia yang melaksanakan kehendak-Nya atas seluruh makhluk. Tidak ada kehendak siapa pun yang berlaku atas-Nya; tidak seorang pun dapat keluar dari genggaman-Nya, dan kekuatan makhluk pun tidak mampu menembus wilayah kekuasaan-Nya.

Selain itu, al-Jabbār juga bermakna bahwa Allah menyantuni orang-orang yang lemah dengan kecukupan dan kekuatan, menyantuni yang terluka dengan keselamatan, serta menyantuni hati-hati yang hancur dengan menghilangkan kepedihannya, menggantinya dengan kelapangan dan ketenteraman, serta dengan pahala dan akibat yang baik bagi mereka yang bersabar karena-Nya. Makna ini selaras dengan makna dasar jabara sebagaimana dijelaskan oleh al-Jauhari.

Seseorang yang melakukan dosa, cepat atau lambat, akan merasakan penyesalan. Rasa penyesalan ini ibarat luka dan retakan pada hati, yang mendorongnya bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dan mencari pertolongan agar luka itu sembuh. Rasa penyesalan dan tekad untuk tidak mengulangi dosa inilah yang disebut sebagai taubat.

Adapun pertolongan yang dicari tidak lain adalah dengan memohon ampun kepada Allah SWT. Dengan demikian, al-Jabbār sebagai salah satu Asmaulhusna Allah dapat disejajarkan dengan al-Ghaffār, al-Afwū, dan al-Tawwāb, yakni Allah Yang Maha Mengampuni, Maha Memaafkan, dan Maha Menerima Taubat hamba-hamba-Nya.

Dengan demikian, Jibārah Allāh (pengampunan dan pertolongan Allah) bermakna bahwa Allah SWT memberikan ampunan kepada hamba-hamba yang bertaubat secara sungguh-sungguh (taubat nasuha), serta memberikan pertolongan kepada mereka untuk melakukan ibadah dan amal saleh sebagai bentuk kedekatan (jiwār) kepada-Nya. Salah satu ciri taubat nasuha adalah meninggalkan perbuatan buruk dan menggantinya dengan memperbanyak amal dan perilaku yang saleh.

Menarik dicatat bahwa kata rajab dan jabara tersusun dari huruf yang sama, yaitu rā’, jīm, dan ’, hanya berbeda urutannya. Dalam kajian semantik, kedua kata ini memiliki kedekatan makna.

1 2Laman berikutnya
Back to top button