RESONANSI

Di Balik Layar Biru SNBP

“Lihat, Mas. Anak Mbak Rini lulus SNBP di Teknik… ITB.”

Suara istriku memecah sunyi ruang makan. Jari telunjuknya menempel pada layar ponsel, menyodorkan tangkapan layar pengumuman SNBP 2026 yang bersinar terang di antara piring-piring kotor.

Aku mengunyah suapan terakhir nasi goreng, mataku sekadar melirik pantulan cahaya biru di matanya yang berbinar. Di luar, malam masih muda, namun di dalam genggaman tangannya, dunia sedang berubah bagi sebagian orang.

“Kamu enggak ngucapin selamat?” tanyaku, suara serak karena makan.

Istriku menghela napas, ibu jarinya masih menggulir layar, membaca ucapan selamat bertumpuk dari rekan-rekan arisan. “Ini mau ngucapin, Mas. Pinginnya kalimatnya beda dari yang sudah ada. Tolong bantu Mas, kata-katanya.”

Aku meneguk air putih, membasah tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. “Tau enggak, Sayang. Yang lulus lebih-kurang dua puluh persen. Sisanya, yang delapan puluh persen sedang berduka karena tidak lulus. Dan bisa jadi keluarga yang anaknya tidak lulus itu ada juga berteman dengan si Rini itu.”

“Aku enggak enak aja kalau tidak ngasih komentar,” balas istriku, nada suaranya mulai turun, ragu.

“Enggak usahlah. Kamu ingat enggak bagaimana Angga anak kita dua tahun yang lalu tidak lulus juga?” Aku meletakkan sendok. Denting logam bertemu keramik terdengar nyaring di keheningan. “Meskipun akhirnya dia tebus saat ujian reguler, dia lulus sesuai pilihannya.”

“Hmmm, aku ingat.” Istrisku menunduk. “Mentalnya drop. Tidak mau keluar kamar tiga hari. Untung ada adikmu, Omnya yang psikolog itu ngasih motivasi, sehingga dia bisa bangkit lagi.” Ia mengenang saat anak kami Angga tidak lulus SNBP 2024. Aku lupa judulnya apa SNBP juga.

“Jadi, kamu masih mau nulis ucapan selamat juga?” pancingku lagi, lembut.

“Enggaklah. Kasihan Mbak Irma, kayanya anaknya si Dinda itu tidak lulus, karena kalau lulus pasti dia sudah posting kelulusan anaknya juga.” Istriku tentu tau siapa-siapa saja anak temannya yang saat ini duduk di kelas XII SMA.

Ia meletakkan ponselnya perlahan. Layar itu kini tampak bukan sekadar kaca dingin, melainkan cermin kegelisahan ribuan orang tua di luar sana.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button