Psikolog: Trauma Kecelakaan Bisa Picu Gangguan Mental
Jakarta (ANTARA) — Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Rose Mini Agoes Salim mengungkapkan bahwa kecelakaan kereta api yang menimbulkan korban jiwa di Bekasi Timur berpotensi besar memicu trauma psikologis mendalam bagi para penyintas.
Peristiwa tragis tersebut tidak hanya menyisakan luka fisik, tetapi juga membayangi kesehatan mental korban melalui berbagai respons psikologis yang kompleks.
“Setelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, respons tiap individu berbeda, sehingga tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,” kata psikolog yang akrab disapa Bunda Romi tersebut, Selasa (28/04) seperti dilansir ANTARA.
Baca juga: Duka di Bekasi Timur, 14 Penumpang KRL Meninggal Dunia
Gejala Cemas hingga Serangan Panik
Pengalaman traumatis akibat kecelakaan transportasi tersebut dapat memicu munculnya perasaan cemas berlebihan hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD pada korban.
Gejala yang sering muncul meliputi jantung berdebar keras saat berada di keramaian hingga kesulitan berkonsentrasi yang membuat penyintas tampak sering termenung.
Stimulus tertentu yang berkaitan dengan insiden tersebut, seperti suara klakson atau laju kereta, dapat memicu rasa gelisah dan keinginan kuat untuk menghindari moda transportasi serupa.
Bunda Romi menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, trauma tersebut mampu memicu serangan panik tiba-tiba yang ditandai dengan sesak napas dan keringat dingin.
“Panic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini membuat korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Risiko Depresi dan Pentingnya Dukungan Sosial
Trauma yang tidak tertangani secara medis dan psikologis dalam jangka panjang berisiko berkembang menjadi gangguan depresi yang jauh lebih berat.
Penyintas yang mengalami depresi biasanya menunjukkan tanda-tanda sedih berkepanjangan, kehilangan minat pada hobi, hingga menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial.
Pengalaman traumatis ini bersifat sangat subjektif karena dipengaruhi oleh kondisi ketahanan mental masing-masing individu yang terlibat dalam kecelakaan.
Lingkungan sekitar diharapkan memberikan pemahaman penuh bahwa proses pemulihan mental setiap korban tidak dapat disamaratakan atau dipaksakan.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesbandarlampung.org
Kecelakaan kereta di Bekasi yang melibatkan sejumlah korban luka serius ini kini menjadi sorotan publik, terutama terkait urgensi penanganan dampak lanjutan terhadap kesehatan mental.
Bunda Romi mengingatkan bahwa pemulihan trauma yang efektif membutuhkan waktu serta dukungan sosial yang kuat agar korban dapat kembali menjalani aktivitas normal.[]
sumber: ANTARA






